Makassar Terkini
Masuk

Sindiran Keras Cak Nun: Di Indonesia, Manusia Lebih Berkuasa dari Tuhan

Terkini.id Jakarta – Budayawan dan cendekiawan Islam, Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun menanggapi perihal isu perpanjangan masa jabatan Presiden Joko Widodo menjadi 3 periode.

Walaupun Presiden Jokowi sudah membantah tak ingin jadi presiden lagi di 2024, menurut Cak Nun hal itu masih mungkin saja.

Cak Nun menyampaikan hal ini melalui video di kanal YouTube Caknuncom dengan judul “Presiden Seumur Hidup: Cak Nun”.

Hal itu menurut Cak Nun mungkin terjadi jikalau hal tersebut disepakati dan nilai merupakan solusi terbaik.

“Kalau memang itu dinilai dan disepakati itu yang terbaik, jangan hanya tiga periode, lima periode. ya seumur hidup,” ujar Cak Nun, dikutip dari Suara, Jumat, 26 Maret 2021.

Cak Nun bahkan menilai bahwa jika Indonesia mau mencontoh Swiss yang presidennya digilir setiap tahun pun bukan masalah besar.

“Kalau mau seperti Swiss, punya lima presiden yang digilir setiap tahun. itu juga tidak buruk,” katanya.

Kemudian dalam video tersebut, Cak Nun ditanyai oleh salah seorang yang ada dalam video tersebut mengenai tanggapan Cak Nun.

“Jadi simbah setuju Jokowi 3 periode atau seumur hidup?” tanya penanya.

Cak Nun menjawab pertanyaan tersebut dengan mengatakan bahwa dirinya bukan siapa-siapa yang di mana pendapayanya juga takkan didengar orang.

“Lah yang nanya ini siapa. Indonesia tak pernah tanya sama saya kok. Kalo yang nanya Indonesia bisa saya jawab, tapi kalo anda, kamu, anak-anakkku yang nanya, lha emang jawaban ku akan berakibat apa? Kan juga tidak didengarkan siapapun juga,” jawabnya.

Ia menilai bahwa tak penting masalah dirinya setuju atau tidak setuju.

Cak Nun mengatakan bahwa jika rakyat Indonesia mau Jokowi dan disepakatu maka tak masalah.

“Jadi tidak penting saya setuju tidak setuju Jokowi 5 periode, 3 periode. seumur hidup. Yang penting Jokowi dan rakyat Indonesia. Saya kan bukan bagian signifikan disitu,” terangnya.

“Apakah pengangkatan presiden seumur hidup tidak melanggar UUD 45 atau konstitusi nasional kita?” pertanyaan kembali terlontarkan untuk Cak Nun.

Cak Nun berpendapat bahwa UUD 45 bukan Al-Quran ciptaan Allah SWT, konstitusi juga bukan syariat Islam yang berasal dari Allah dan Rasulullah.

Oleh karena itu Cak Nun merasa bahwa tak masalah jika UUD 45 diubah.

“UUD 45, konstitusi dan peraturan apapun bikinan manusia. Jadi manusia berhak, boleh dan kapan saja mengubahnya, Menambah, mengurangi, menggeser, mencabut, atau bikin baru boleh-boleh saja,”

Bahkan, Cak Nun menyampaikan sindirannya yang mengatakan bahwa di Indonesia, manusia lebih berkuasa daripada Tuhan.

Makanya, Cak Nun menilai bahwa tak menutup kemungkinan jika perubahan konstitusi itu terjadi

“Terserah manusia, karena manusia lebih berkuasa dari Tuhan di Indonesia,” sindir Cak Nun.