Sinkretisme dan Tradisi Awal Ramadan

Terkini.id – INDONESIA negara yang super unik, super aneh dan selalu  membuat keanehan dan sering menciptakan tradisi unik, ritual-ritual khas keagamaan yang berbeda antar daerah, berdasarkan kearifan lokal setempat.

Bahkan satu keyakinan pun akan lahir banyak perbedaan tradisi ritual dan kalau tak ada perbedaan ritual maka  bukan Indonesia, karakter masyarakat Indonesia senang berbeda bahkan semakin berbeda semakin terlihat karakter Indonesianya.

Tradisi awal menjemput kedatangan Ramadan sangat variatif  antar daerah walau satu keyakinan agama. Karakter asli Indonesia suka menghadirkan perbedaan. 

Baca Juga: Anir Berbagi Berkah Ramadan dengan Warga Pulau di Pangkep

Contoh Tradisi Suku Bugis Makassar dan Makassar Bugis Konjo, konon sejak jauh sebelum masuknya pengaruh agama Islam tradisi baca baca keselamatan sudah mengakar di kalangan masyarakat Sulsel.

Begitu datang Islam dengan pengaruhnya, maka terjadi proses SINKRETISME, perkawinan nilai atau perjumpaan pengaruh nilai – nilai ajaran Islam dan pengaruh keyakinan keyakinan lokal leluhur nenek moyang, perkawinan kedua keyakinan tersebut melahirkan tradisi ritual yang dikenal ‘Suru Maca‘.

Baca Juga: Plt Gubernur dan Keluarga Ikuti Kajian Online Berbakti Kepada Orang...

Ada juga menyebutnya “Assoro Maca”  atau A’baca baca, Mabbaca. 

Sangkin kuatnya akar tradisi Assuro Maca tidak sekedar untuk menjemput datangnya tamu bulan Ramadan yang suci tapi berbagai acara suka cita, acara keselamatan.

Dan acara syukuran juga tak lengkap kalau tak Assuro Maca walaupun dinilai kalangan ormas keagamaan tertentu ini praktek bi’dah harus ditumpas atau perilaku menyimpang dari ajaran murni agama Islam tapi dalam konteks strategi dakwah awal pengaruh Islam di Sulawesi Selatan justru perilaku singkritisme yang mengantarkan Islam mudah masuk dan dianut oleh mayoritas masyarakat Sulawesi Selatan yang sering dikenal dengan strategi dakwah kultural.

Baca Juga: Jelang Idul Fitri, 155 Ribu Personel Akan Menjaga 180 Pos...

ASSORO MACA adalah ritual doa-doa yang dipimpin oleh Imam, Gurutta, Ustads, tau Macca, tau panrita agama, tokoh agama bahkan boleh jadi dukun kampung yang ahli jadi juru baca-baca walau sering tak terdengar suaranya yang penting secara verbal mulutnya terlihat komat-kamit dan yang lain mengaminkan lalu dinyatakan sah.

Dan uniknya lagi tidak lengkap baca-baca “Assuro Maca“ kalau tak ada Songkolo  Bayao (tello) atau hidangan kuliner yang akan disantap bersama dan tentu tak lupa biasa sang ustadz dapat bagian pisang dan paha ayam untuk dibungkus pulang dan amplop ala kadarnya atau nipajonjoi yakni jabatangan dilapisi lembaran duit sebagai ucapan terima kasih.

Dalam pandagan sosiologis perilaku Assoro Maca itu adalah kearifan lokal tradisi komunitas kontruksi budaya yang merupakan hasil konstruksi sosial para leluhur yang sekarang mulai tergerus arus modernisasi dan gerakan pemurnian ajaran Islam.

Mari kita menjalankan puasa Ramadan dengan hati yang bersih serta beralaskan Nawaitu semata-mata mencari keridoanNYa dengan memperbanyak ibadah, zikir, baca Alquran, bersedekah dan tetap semangat bekerja seperti biasa dengan mengharap ampunan Allah SWT. Aamiin. Wassalamu’alaikum tapada sehatki semua.

Penulis:

Prof Abd Rasyid Masri
(Akademisi dan Pebisnis)

Bagikan