Terkini.id, Jakarta – Penasehat Wakil Presiden RI 2009-2014, Abdillah Toha turut menyoroti soal warga Indonesia yang ramah di kehidupan nyata namun kasar di media sosial.
Ia menilai bahwa netizen yang kasar tersebut bisa jadi disebabkan oleh fanatisme, baik itu fanatisme agama, politik, ideology, ataupun lainnya.
Hal ini disampaikan oleh Abdillah Toha melalui akun Twitter pribadinya, @AT_AbdillahToha pada Minggu, 30 Januari 2022.
Dalam cuitannya tersebut, ia membagikan sebuah video orang luar yang menceritakan pengalamannya soal masyarakat Indonesia.
Orang ini mengaku ia pernah menceritakan pengalamannya di sosial media soal orang di Yogyakarta yang dengan baik membantunya.
- Singgung Jokowi Menghadap Megawati, Abdillah Toha: Kepala Negara Menghadap Bos?
- Jokowi Menghadap Megawati, Abdillah Toha: Aneh Kalau Ada Warga Negara Indonesia Tidak Tersinggung
- Zulkifli Hasan Kasih Hadiah Umroh ke Pedagang Minyak Goreng, Pendiri PAN: Ini Saya Kurang Paham
- KPK Pamer Rompi Baru, Pengamat Politik: Jenius, Negeri Lain Tidak Mampu Berpikir Sejauh Itu
- KPK Buat Rompi Biru Untuk Berantas Korupsi, Pendiri PAN: Negeri Lain Tidak Mampu Berpikir Sejauh Itu
Namun, kata laki-laki itu, netizen banyak yang menyebut orang Indonesia hanya baik di dunia nyata, tapi sangat buruk di media sosial.
Laki-laki ini juga menyinggung penelitian Microsoft yang menempatkan netizen Indonesia di posisi 29 dari 32 negara hal kesopanan.
Ia lantas menyebutkan salah satu alasan mengapa netizen Indonesia memiliki reputasi yang buruk.
“Menurutku, banyak orang Indonesia yang sayangnya terjebak dalam mentalitas berpikiran tertutup,” katanya, seperti diterjemahkan terkini.id.
Ia menilai banyak orang Indonesia, utamanya generasi dewasa yang terjebak dalam pemikiran bahwa hanya yang mereka yakini yang benar dan yang lain semuanya salah.
Menurutnya, orang-orang berpikiran tertutup ini pun lantas dengan mudah bisa bersatu di media sosial untuk saling mendukung kepercayaan mereka.
Video inilah yang kemudian diunggah dan dikomentari oleh Abdillah Toha di akun Twitternya.
“Boleh setuju boleh tidak, tapi saya sendiri sering terkejut dengan bahasa kasar yang sering dipakai oleh netizen kita dalam komentar-komentar dan timeline di twitter,” katanya.
Bila sinyelemen itu benar, lanjutnya, maka sopan santunnya orang kita itu palsu, ketika identitasnya tersembunyi seperti dalam banyak medsos.
“Bisa karena fanatisme agama, politik, ideologi atau lainnya, tapi yang jelas mereka yang maki2 dgn menyembunyikan identitasnya itu hanya punya satu nama. Pengecut,” kata Abdillah Toha.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
