Soal Radikalisme hingga Terorisme, Hasto PDIP Sebut Akarnya dari Kemiskinan: Lahan Mudah Indoktrinasi yang Butakan Alam Pikir

Terkini.id, Jakarta Hasto Kristiyanto yang merupakan sekretaris jenderal (sekjen) PDIP belum lama ini membahas soal intoleransi hingga radikalisme-terorisme.

Uniknya, Hasto mengatakan bahwasanya radikalisme yang berujung pada terorisme sebenarnya salah satunya berakar dari kemiskinan sehingga kemudian alam pikir dapat dengan mudah dibutakan.

Oleh karena itu, ia lantas mendesak agar paham radikalisme dibasmi sedini mungkin. Namun, tentu saja dengan tetap mendorong kehidupan berbangsa dan bernegara yang inklusif berdasarkan Pancasila.

Baca Juga: Arteria Dahlan Diberi Sanksi Oleh PDIP: Semoga Jadi Pelajaran!

“Akar radikalisme dan terorisme harus dicegah dari dini dengan menolak berbagai bentuk intoleransi,” ujar Hasto, dikutip terkini.id dari Metrosidik pada Senin, 29 November 2021.

Hal itu disampaikan Hasto saat hadir sebagai pembicara dalam webinar bertajuk ‘Tantangan, Radikalisme & Konsolidasi Demokrasi’ yang digelar oleh Partai Perindo.

Baca Juga: PDIP Berikan Sanksi Peringatan ke Arteria Dahlan: Semoga ini Menjadi...

Menurut Hasto, banyak faktor yang menjadi penyebab munculnya paham radikalisme di tengah masyarakat.

Mulai dari faktor kemiskinan, ketidakadilan, hingga kepemimpinan dan peranan kelompok-kelompok radikal internasional terhadap gerakan intoleransi yang ada di Indonesia.

“Akar persoalan radikalisme berangkat dari kemiskinan dan penghinaan yang begitu panjang,” paparnya.

Baca Juga: PDIP Berikan Sanksi Peringatan ke Arteria Dahlan: Semoga ini Menjadi...

“Kemiskinan menjadi lahan yang mudah dari proses indoktrinasi yang membutakan alam pikir.”

Diakuinya, dengan melihat realitas kehidupan sosial di masyarakat saat ini, banyak cara dilakukan untuk melakukan indoktrinasi memuja gerakan intoleransi sehingga menjadi lahan tumbuh suburnya paham radikalisme dan terorisme.

Katakan saja mulai dari menyusup kelas ekonomi masyarakat bawah hingga menyasar lembaga pendidikan tinggi.

“Dari berbagai kajian yang dilakukan, terdapat suatu proses infiltrasi dalam memengaruhi pola pikir mahasiswa-mahasiswi untuk melibatkan diri dalam bentuk-bentuk tindakan radikalisme.”

Untuk itu, Hasto menegaskan bahwa negara tidak boleh kalah dengan gempuran paham radikalisme dan terorisme karena negara bertujuan melindungi segenap bangsa serta tumpah darah Indonesia.

Dengan kata lain, tidak boleh ada pembenaran atas nama keadilan, kemiskinan, ataupun pemahaman apa pun yang membutakan terhadap kemanusiaan dengan melakukan intoleransi dan gerakan radikalisme tersebut.

“Dengan membangun demokrasi Pancasila, alat-alat negara harus secara jeli melihat persoalan-persoalan yang sudah meresahkan dan melakukan pencegahan,” tandas Hasto.

Bagikan