“Ya, saya kira itu sebetulnya konteks hari ini mengapa umat Islam merasa tersinggung atau NU apalagi marah, tuh. Karena dalam konteks 2 periode Pak Jokowi, itu seolah-olah hendak menyingkirkan Islam,” kata Rocky.
“Maka tersambung akhirnya, dianggap bahwa loh kalau begitu Islam memang mau dihilangkan dari jejak sejarah, tuh. Padahal, kemajemukan bangsa ini justru ditentukan adanya muslim, adanya Islam. Kan itu intinya, kan. Dan di dalam Islam juga ada varian-variannya dan itulah yang membuat kita merasa bahwa itulah jejak bangsa ini,” sambungnya.
Rocky mencontohkan bagaimana sosok Imam Bonjol yang kontroversial dari sisi tafsir sejarahnya, namun pada akhirnya tetap dapat dipelajari bahwa sosoknya pernah menghasilkan duel pikiran di kalangan umat Islam.
“Dan itu adalah bagian yang kita pelajari, kita nggak pelajari tentang isi teologinya, kita pelajari isi pikiran sosiologinya. Jadi, bagian muamalat dari ajaran Islam itu yang harusnya menghasilkan pikiran-pikiran majemuk tuh,” kata Rocky.
Ia lantas mengaitkan semua hal ini dengan cara Istana memandang Islam dan juga sejarah dalam mengambil sikap dan kebijakan.
- Diskusi Situasi Global di UNM, Pembicara Soroti Penurunan Kualitas Demokrasi Indonesia
- Rocky Gerung Saran ke Anies Untuk Tak Maju Dalam Pilgub Jakarta
- Rocky Gerung Beri Tanggapan, Usai Tim PDIP Cabut Laporannya
- Rocky Gerung Akui Sudah Jadi Tersangka
- Kasus Penyebaran Berita Bohong Rocky Gerung Naik Penyidikan
“Dan istana nggak pikir itu. Istana pikir bahwa Islam itu teologi aja tuh, bukan sosiologinya, tuh. Nah bagian ini yang saya anggap, waktu ngomong 4.0 segala macam, kita kehilangan orientasi kebudayaan melalui perspektif sejarah, tuh,” jelasnya.
Hal itu mengakibatkan muncul saling curiga dan pada akhirnya terbentuklah stigma-stigma radikal.
“Karena itu kita sekarang saling mengintai dan saling merasa resah kalau ada perkembangan pikiran dari muslim lalu mereka yang lain menggap wah ini pikiran teologis muslim ini berbahaya. Padahal semua pikiran teologis muslim, di dalamnya ada aspek sosiologinya, tuh. Yah tentang keadilan yang bisa ditransformasikan menjadi sistem ekonomi, menjadi sistem perbankan,” ungkpa Rocky.
“Jadi biarkan pikiran-pikiran itu tumbuh, jangan dianggap bahwa itu adalah pikiran radikal berbahaya, itu bertentangan dengan nasionalisme. Loh dari awal Islam radikal dalam upaya mengusir kolonialisme. Itu sama dengan nasionalisme. Apa bedanya? Kalau kita pernah belajar sejarah,” sambungnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
