Terkini.id – Masalah kebijakan tambang di Indonesia mendapat kritik keras dari ekonom Senior Indef Faisal Basri.
Mulai dari masalah ekspor nikel yang meningkat pesat, tetapi lebih banyak dinikmati oleh China hingga dugaan ekspor ilegal nikel 5,3 juta ton sejak 2021 ke China.
Berdasarkan data -data yang ada, Faisal Basri mengungkapkan hilirisasi nikel di Indonesia justru lebih menguntungkan China.
Hal itu karena sebagian besar industri nikel di Indonesia adalah hasil investasi perusahaan China, dan 90 persen diekspor ke China.
Sehingga, menurut dia, jika perusahaan yang mengekspor adalah perusahaan China dan barang produk juga dikirim ke China, artinya untungnya dikirim ke China juga.
- Huabao Indonesia Gelar Cleanup Action di Morowali, Kampanyekan Hidup Sehat dan Bersih di Area Desa Ambunu
- Perlindungan Hukum Pekerja Tambang Dipertanyakan dalam Kasus Awwab dan Marsel
- Batu Bara dari Langit
- Ketika Langit Tak Lagi Punya Dewa
- Terima Saran Pj Gubernur Sulsel, PT Vale Akan Tanam Sukun untuk Rehabilitasi Lahan Tambang
Kritik ini sebelumnya sempat dijawab oleh pemerintah, termasuk Menteri Koordinator Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan dengan menyajikan data-data yang ada.
Namun, ekonom Universitas Hasanuddin, Dr Agussalim MSI, menilai pemerintah belum lengkap merespons semua kritikan Faisal Basri.
Menurut dia, ada beberapa data yang dikemukakan Faisal Basri yang membuat munculnya pernyataan keras bahwa Indonesia menjadi Budak China menurut ekonom senior tersebut.
“Bagi saya, mungkin jauh lebih elok jika pemerintah merespons pernyataan Faisal Basri tidak hanya pada perbedaan nilai ekspor nikel ke China, tapi juga pada pernyataan keras Faisal Basri bahwa ‘Kita Budak China’,” tulis Agussalim lewat akun media sosialnya.
Dia pun menjelaskan beberapa data penting yang dijelaskan Faisal Basri.
“Hampir 100 persen ekspor nikel mentah (nickel pig iron dan ferro nickel) diekspor ke China. Dengan lugas Faisal Basri menyebut bahwa hilirisasi nikel di Indonesia untuk menopang industrialisasi di China;
Sebanyak 22 industri smelter yang ada di Indonesia, 21 di antaranya milik China;
Buruknya tata kelola nikel yang menguntungkan perusahaan China: pemberian tax holiday, kongkalikong harga, visa kunjungan tenaga kerja China, kualifikasi tenaga kerja China yang tidak sesuai, dst;
Tentu saja, yang juga sangat penting untuk dijelaskan, soal ekspor illegal 5,3 juta ton ke China sejak tahun 2021. Apalagi Faisal Basri menyebut keterlibatan tiga orang penting.
Sebetulnya ini yang ingin kita didengarkan…
Mudah-mudahan nanti dari penjelasan pemerintah, kita bisa mengatakan bahwa sebenarnya ‘Kita Majikan China’,” tulisnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
