Terkini.id, Jakarta – Maskapai Sriwijaya Air sedang dilanda masalah internal. Selain berhenti beroperasi, dua dirutnya mundur.
Kisruh di tubuh Sriwijaya Air Group diduga dipicu oleh dualisme kepemimpinan hingga berujung pada rapor merah perusahaan.
“Kalau ada dualisme kepemimpinan, sama saja satu kapal ada dua kapten, satu Dirut yang di dalam akta dan satu Dirut urusan kontigensi. Selama ini masalah terjadi. Ini membuat saya sulit berkoordinasi,” terang Direktur Operasi Sriwijaya Air Captain Fadjar Semiarto saat konferensi pers di Jakarta, Senin 30 September 2019 seperti dilansir dari antara.
Fadjar mengungkapkan, dualisme kepemimpinan tersebut mempengaruhi kebijakan-kebijakan yang diambil, dan berujung pada rapor merah perusahaan, yakni status hazard, identification and risk assessment (Hira) berstatus merah, artinya berpotensi membahayakan apabila Sriwijaya Air dipaksakan beroperasi.
Untuk itu, dia pun menyerahkan surat rekomendasi kepada Direktur Utama Sriwijaya Air Jefferson I Jauwena untuk menghentikan sementara operasional Sriwijaya Air.
- Kabar Gembira! Sriwijaya Air Buka Penerbangan Langsung dari Makassar ke Wamena
- Setahun Pasca Tragedi Jatuhnya SJ182, Apa yang Dilakukan Manajemen Sriwijaya?
- Kabar Gembira di Tengah Pandemi, Sriwijaya Air Buka Rute Makassar Tujuan Ambon dan Langgur PP
- Ini Kondisi Terkini AirAsia hingga Lion Air di PPKM: Hentikan Penerbangan, Pulangkan Pesawat!
- Sukses Temukan Sriwijaya Air, Kini Tim Penyelam Kopaska TNI AL Mencari KRI Nanggala-402
Fadjar dan Direktur Teknik Romdani Ardali Adang pun mengundurkan diri lantaran kondisi tersebut berisiko pada keselamatan penerbangan dan menghindari konflik kepentingan.
“Yang paling berat di dunia penerbangan ini kalau ada dualisme kepemimpinan ini sama aja satu kapal ada dua kapten. Enggak mungkin kapalnya bisa berjalan sesuai target. Setiap orang bisa berpotensi, malah berlawanan arah,” katanya.
Namun, Fadjar mengakui akar dari permasalahan hingga polemik seperti ini, yakni diawali konflik dengan Garuda Indonesia, mulai dari komisaris hingga pemecatan tiga direksi Sriwijaya Air.
Sebelumnya, beredar rekomendasi penghentian sementara operasional Sriwijaya Air Group dari Direktur Quality, Safety, dan Security Sriwijaya Air Toto Subandoro kepada Plt Direktur Utama Sriwijaya Air Jefferson I. Jauwena.
Dalam surat nomor Nomor: 096/DV/1NT/SJY/1X/2019 tertanggal 29 September 2019 yang beredar, Toto menjelaskan, rekomendasi itu diputuskan usai Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan yang melakukan pengawasan terhadap keselamatan penerbangan Sriwijaya menemukan adanya ketidaksesuaian pada laporan yang disampaikan perusahaan 24 September 2019 pada DKPPU.
Temuan tersebut adalah bahwa ketersediaan tools, equipment, minimum spare dan jumlah qualified engineer yang ada di perusahaan ternyata tidak sesuai dengan laporan yang tertulis dalam kesepakatan yang dilaporkan kepada Dirjen Perhubungan Udara dan Menteri Perhubungan.
Termasuk bukti bahwa Sriwijaya Air belum sukses melakukan kerja sama dengan JAS Engineering atau MRO lain terkait dukungan Line Maintenance.
Hal ini berarti Risk Index masih berada dalam zona merah 4A (Tidak dapat diterima dalam situasi yang ada), yang dapat dianggap bahwa Sriwijaya Air kurang serius terhadap kesempatan yang telah diberikan pemerintah untuk melakukan perbaikan.
Utang Rp 800 Miliar dan Putus Kerja Sama Garuda
Diam menyebutkan beberapa masalah yang kini menghantam perusahaan, yakni utang sejumlah Rp 800 miliar kepada PT Garuda Maintenance Facilities (GMF) AeroAsia.
Diketahui, Sriwijaya rupanya telah putus kerja sama dengn GMF. Pemutusan kerja sama itu, kata Fadjar, secara resmi tertanggal 25 September 2019 lalu.
“Padahal risiko di GMF, kalau ini nggak bisa dimitigasi, tunggakan berpotensi macet, jumlahnya Rp 800 miliar,” ujar Fadjar di Jakarta.
Meski utang itu menumpuk, Fadjar mengaku Sriwijaya masih terus mencicilnya secara perlahan kepada GMF.
Padahal, menurut Fadjar, selama ini meski utang besar namun kerja sama dengan GMF masjh bisa membuat Sriwijaya Air Group bertahan dan menyembuhkan kondisi keuangan. Sayangnya, kerja sama justru diputus.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
