Sutradara-sutradara Kampus Peradaban

Sutradara-sutradara Kampus Peradaban

AT
HZ
Admin Terkini
Hasbi Zainuddin

Tim Redaksi

ACAPKALI kita jumpai berbagai macam aktivitas mahasiswa di kampus yang tak berfaedah. Sejumlah problem menjadi faktor pendorong timbulnya rasa keapatisan dari dalam diri mahasiswa, mulai dari hegemoni  teknologi, malas membaca buku sampai pada yang melanggar norma-norma agama seperti pergaulan bebas.

Ruang-ruang kelas yang dihidangkan kampus atau birokrat, tidak selamanya mampu mengubah mindset negatif jadi positif, ditambah lagi tenaga didik yang diperuntukkan memberikan sumbangsih  moralitas kepada mahasiswa tidak terealisasi dengan baik.

Seolah–olah pendidikan sudah di setting oleh sutradara handal dalam mengendalikan setiap adegan-adegan di dalam kampus untuk menciptakan tayangan-tayangan yang tak mendidik.

Bersandar pada kalimat “mencerdaskan kehidupan bangsa” yang diformulasikan di dalam pembukaan UUD 1945 di alinea IV yang merupakan tujuan dan cita cita bangsa untuk rakyat hanya sebatas kalimat indah namun absurd dalam perealisasiannya.

Kalau memang pendidikan merupakan senjata untuk mempertahankan eksistensi negara, mengapa pendidikan hari ini menjadi ladang bisnis untuk mereka-mereka yang katanya penguasa?

Mahasiswa adalah konsumen utama bagi produsen yang menyamar di balik status dosen. Semua kalimat yang dilontarkan oleh dosen menjadi kalimat sakral dalam mempercepat langkah untuk memenuhi keinginannya.

Penulis teringat kata-kata salah satu dosen di salah satu perguruan tinggi negeri ” he…kau mahasiswa kalau lain-lain gerakanmu, saya tidak akan menegur lewat mulutku, tapi penakulah yang akan bicara”.

Ini adalah salah satu kalimat sang penjajah  pendidikan. Kalau dulu, para penjajah menggunakan senjata api dan tank untuk merobohkan pertahanan para pejuang, tapi hari ini penjajah menggunakan pena sebagai senjata utama untuk mengeksploitasi kemerdekaan berpikir mahasiswa. Suatu kewajaran ketika para lembaga organisasi baik intra maupun ekstra kampus menawarkan  mahasiswa/i untuk gabung berproses di organisasi, banyak diantara mereka yang menolak dengan alasan kuliah mereka akan terganggu, ini dikarenakan hegemoni ataupun doktrin para sutradara kampus yang menginginkan  mahasiswanya apatis untuk berorganisasi.

Produktivitas otak kritis dari jati diri seorang mahasiswa sudah mulai krisis dan suatu kewajaran ketika ada masalah atau penyakit sosial di dalam masyarakat, mereka hanya diam bahkan tidak sedikit dari mereka hanya sebagai penonton di setiap adegan yang di pertontonkan.

Penulis berharap, opini ini mampu mencubit jiwa krtitis kita sebagai makhluk yang berakal sehat. “Perbedaaan pendapat adalah suatu kewajaran, justru yang tidak wajar adalah membungkam diri untuk tidak berpendapat.”

Penulis: Irvan (Mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi)

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.