Masuk

Politik Mental Budak

Komentar

Prof. Abd Rasyid Masri

(Akademisi dan Pebisnis)

Tulisan ini terinspirasi dari pernyataan Ibnu Khaldun seorang bapak Sosiolog Islam, bahwa andaikan saya diberi kesempatan memilih siapa yang pantas harus dibinasakan atau di lenyapkan di muka bumi ini, apakah pemimpin zholim yang pembohong atau melenyapkan manusia – manusia bermental budak.

Ibnu Khaldun menjawab tanpa ragu saya lebih memilih melenyapkan manusia manusia bermental budak,dari pada memantapkan pemimpin zholim.

Karena manusia – manusia bermental budak inilah menyebabkan adanya pemimpin zholim dan pemimpin zholim bisa bertahan karena didukung manusia bermental budak, mental penjilat.

Baca Juga: Politik Tahu Diri

Menarik bila dikaitkan dengan dunia politik, karena dunia politik banyak memproduksi manusia bermental budak, manusia kutu loncat, manusia yang inkonsistensi walau tentunya kita tetap obyektif masih lebih banyak politisi yang bermental petarung dan politisi pejuang sejati atau pejuang kesejahteraan masyarakat.

Tapi tidak sedikit juga demi posisi politik, rela menghalalkan segala cara dan cenderung mendukung pemimpin yang menurut rakyat itu zholim tapi tetap terus disanjung dan dibela mati-matian walau bertentangan dengan realitas dan akal sehat masyarakat.

Itulah dunia politik, dunia yang banyak mengajarkan ketidak pastian sehingga sering kita dengar bahwa dalam politik “satu satunya kepastian adalah kepentingan.

Baca Juga: Klaim Sebagai Partai Milenial! Deklarasi Partai Pelita, Ketua Umum: Turun ke Jalan Tak Lagi Efektif

Bahkan diperkuat oleh Prof.Dr.Dadang Hawari, satu satunya kepastian dalam ketidak pastian adalah ketidak pastian itu sendiri .

Manusia bermental budak dalam bahasa akademiknya mentalitas inferior karena mental tersebut mental yang sulit mengontrol dirinya, sehingga mudah jadi sasaran eksploitasi dari orang orang cerdas di sekitarnya.

Ciri manusia mental budak yang mudah kita temukan dalam keseharian termasuk di kampus – kampus yang dihuni manusia berakal sehat, tetapi banyak yang berperilaku mental budak yakni suka mencari perhatian pada pimpinan, suka buat sensasi namun selalu mencari kambing hitam, tak bertanggung jawab bila mendapat amanah.

Bahkan menariknya mental budak itu terlihat selalu minta belas kasihan jadi ciri utama, sulit mandiri dan tak percaya diri, pandai menggunting dalam lipatan, lempar batu sembunyi tangan.