Makassar Terkini
Masuk

Syahganda Nainggolan: HRS Dikeluarkan Guna Merespons Rilis Kemenlu AS

Terkini.id, Jakarta – Syahganda Nainggolan selaku Ketua Lembaga Kajian Publik Sabang Merauke Circle (SMC) mengatakan bahwa kebebasan Habib Rizieq Shihab (HRS) dipengaruhi oleh Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat (Kemenlu AS).

Pada awal tahun ini, diduga Kemenlu AS menerbitkan sebuah rilis yang didalamnya terdapat kasus HRS. 

“Jadi, HRS dikeluarkan guna merespons rilis Kementerian Luar Negeri AS atas persoalan HAM dan juga sangkut paut terhadap kasus penembakan laskar FPI di KM 50,” ujar Syahganda Nainggolan, dikutip dari rmol.id, Sabtu 23 Juli 2022.

Lebih lanjut lagi, Syahganda Nainggolan berujar pembebasan HRS berkaitan dengan Indonesia yang membutuhkan dukungan AS dan Barat terkait bantuan pinjaman untuk melaksanakan pembangunan.

Diketahui bahwa bantuan Amerika Serikat (AS), Negara Barat, dan lembaga multilateral selalu berhubungan dengan masalah Hak Asasi Manusia (HAM).

“Di mana defisit anggaran pembangunan ke depan harus bisa dipastikan diperoleh melalui pinjaman bilateral ataupun multilateral, bukan lagi intervensi Bank Indonesia,” kata Syahganda Nainggolan.

Menurut Syahganda Nainggolan APBN tidak bisa hanya mengandalkan penghasilan pajak yang hanya 9% dari PDB.

Selanjutnya, diketahui beberapa bulan lagi akan digelar konferensi G-20, hal ini juga diduga menjadi faktor mengapa HRS dibebaskan.

“Terkait soal pelanggaran HAM ini juga harus selesai sebelum diselenggarakannya acara G-20, dimana pimpinan berbagai negara akan datang ke Indonesia. Tentu pemerintah Indonesia akan sangat malu dengan pelanggaran HAM, seperti pemenjaraan HRS, bila melakukan hajatan internasional,” tutur Syahganda Nainggolan.

Syahganda Nainggolan meminta kepada Presiden Jokowi untuk melaksanakan rekonsiliasi nasional yang bertujuan untuk membangun tanah air dalam kondisi yang krisis seperti sekarang.

Mantan Aktivis ITB pada tahun 1980-an ini juga menyarankan Presiden Jokowi agar menghormati HRS terlebih dahulu.

Syahganda Nainggolan berharap suatu saat Megawati Soekarnoputri dan HRS bisa membangun komunikasi yang bagus sebagai simbolisasi dari dialektika jalan pikiran Bung Karno.

“Sehingga Islamisme dan sosialisme/marhaenisme mampu bersinergi,” pungkas Syahganda Nainggolan.