Penulis: Dewi Setiawati
Dosen FKIK UIN Alauddin Makassar
Akhir tahun selalu dirayakan dengan gegap gempita. Di mana-mana orang membakar jagung dan ikan, meniup terompet, menyalakan petasan dan kembang api.
Ada yang berkumpul bersama keluarga, ada yang nongkrong dengan sahabat dan tetangga, ada pula yang memilih merayakan dengan pasangan (baik yang sah maupun yang belum). Namun sesungguhnya, apa yang sedang dirayakan?
Pergantian angka di kalender?
Atau sekadar euforia sesaat agar kita lupa pada kesepian? Atau sekedar ikut ikutan ?
Saya teringat suatu malam di malam tahun baru, beberapa tahun silam, ketika masih menjadi dokter residen di sebuah rumah sakit.
- Kanwil DJP Sulselbartra Peringkat Kedua Nasional Pertumbuhan Pelaporan SPT 2025
- Upacara Hardiknas, Bupati Tegaskan Komitmen Pemkab Jeneponto Mencetak Generasi Emas
- XLSMART Gelontorkan Rp200 Juta, 33 Ribu UMKM Perempuan Berebut Modal Pintar 2026
- Ulama dan Umara: Dua Pilar Peradaban untuk Sulawesi Selatan Maju dan Berkarakter
- Pemkot Makassar Bentuk Tim ATS, Jemput Anak Putus Sekolah Kembali Belajar
Saat itu, saya sedang tugas jaga. Di luar, langit malam penuh warna. Dan di dalam, ruang gawat darurat penuh darah.
Seorang remaja perempuan berusia 17 tahun dibawa masuk dalam keadaan tidak sadar. Ia diantar oleh seorang pemuda.
Begitu gadis itu dibaringkan di ranjang UGD, pemuda itu menghilang, tanpa sepatah kata.
Tubuh gadis itu pucat. Roknya basah oleh darah. Penuh darah.
Tekanan darahnya menurun, nadinya cepat dan lemah.
Ia sedang mengalami syok hipovolemik: tubuhnya kehabisan cairan darah.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
