Makassar Terkini
Masuk

Tak Yakin Kotak Amal Sumber Dana Terorisme, PKS: Jangan Jadikan Densus 88 Lembaga Islamophobia

Terkini.id, Jakarta – Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PKS, Bukhori Yusuf ikut mengkritisi narasi Polri soal dana kotak amal yang digunakan sebagai sumber dana kelompok teroris Jamaah Islamiyah (JI).

Bukhori Yusuf khawatir hal itu justru menimbulkan kesan Islamophobia di tengah masyarakat.

“Kami mendukung upaya negara dalam memberantas terorisme. Namun kami menolak cara-cara yang tendensius sehingga membuat umat Islam tersudut dan dirugikan akibat narasi berbau Islamophobia. Narasi itu sudah usang di Barat, sayangnya kita masih saja mengimpornya,” kritik Bukhori,m engutip Berita Politik RMOL, Jumat 5 November 2021.

Tak hanya itu, Bukhori mengatakan, penangkapan Ketua Lembaga Amil Zakat di Lampung yang dituding terlibat aktivitas terorisme oleh Densus 88 Polri kian memperkuat persepsi publik soal adanya indikasi agenda Islamophobia yang didorong oleh pihak tertentu.

“Lembaga Amil Zakat (LAZ) adalah lembaga resmi di bawah naungan BAZNAS. LAZ ini tidak mungkin beroperasi sebelum ada izin dari Kementerian Agama,” ujarnya.

Lebih lanjut, Bukhori mengungkapkan, operasi Densus 88 Polri yang menarasikan kotak amal dan lembaga zakat sebagai sumber pendanaan aktivitas terorisme dikhawatirkan akan berimbas negatif pada niat ibadah zakat atau sedekah oleh umat Islam.

“Polri perlu membeberkan secara transparan, apakah dari ratusan kotak amal maupun dana yang terhimpun di lembaga zakat terkait benar-benar digunakan sepenuhnya untuk aktivitas yang mereka klaim sebagai aktivitas terorisme? Sebab kami belum sepenuhnya yakin semua dana yang dihimpun itu digunakan untuk kegiatan terlarang,” lanjutnya.

Bukhari menyayangkan, jangan sampai narasi yang dibangun Densus 88 Polri menyesatkan publik, sehingga membuat mereka enggan untuk beramal di kotak amal atau melalui lembaga zakat.

“Jika kebetulan hanya didapati satu atau dua pos keuangan dari lembaga zakat terkait yang terbukti digunakan untuk kegiatan terlarang, maka jangan dikatakan kotak amal dan lembaga zakat sebagai penyokong kegiatan terorisme,” pungkasnya.

“Implikasinya, kampanye negatif terhadap lembaga zakat juga akan merugikan lembaga negara lain, yakni Baznas selaku lembaga amil zakat nasional,” sambungnya.

Diketahui, selama menjalankan operasi penangkapan sejumlah terduga teroris di Lampung, Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri telah menyita sebanyak 791 kotak amal.

Menurut keterangan Humas Polda Lampung, kotak amal tersebut sebagai barang bukti yang selama ini digunakan untuk mendanai kegiatan terorisme.

Dalam operasi tersebut, tiga terduga pelaku telah diamankan. Antara lain beberapa petinggi di yayasan amal bernama Lembaga Amil Zakat Baitul Maal Abdurrahman Bin Auf (LAZ BM ABA).