Temporary dan Cofferdam Diduga Penyebab Banjir Bandang Jeneponto, Ini Tanggapan PT Nindya Karya

banjir bandang jeneponto
Team Leader Konsultan Supervisi Bendungan Kareloe, Muh Arif Paputungan

Terkini.id, Jeneponto – Diduga banjir bandang yang melanda Kabupaten Jeneponto akibat hancurnya Temporary dan Cofferdam, Team Leader Konsultan Supervisi Bendungan Kareloe, yang dikerjakan oleh PT Nindya karya, mengaku hancurnya tanggul pengalih air sungai itu bukan penyebab utama terjadinya banjir bandang.

“Perlu saya jelaskan, bahwa bendungan itu belum selesai, kami dalam tahap pelaksanaan, kemari yang sudah selesai kami buat adalah terowongan pengelak dan kemudian pembuatan tanggul untuk mengalihkan air dari sungai lama ke terowongan, itu yang dikatakan jebol, dua yang hancur temporary dan cofferdam,” kata Team Leader Konsultan Supervisi Bendungan Kareloe, Muh Arif Paputungan kepada terkini.id, Rabu 30 Januari 2019.

Menurutnya, debit air mulai naik sekitar pukul 9.23 WITA dan ketinggian air sejajar dengan mulut terowongan sekitar pukul 10.00 WITA.

“Karena air semakin tinggi akibat curah hujan yang tinggi sehingga aliran itu menjadi dua, kekanan melalui pengelak kemudian ke kiri melalui tanggul yang kami buat, itu yang berangsur-angsur terkikis kemudian hancur,” jelas Arif Palutungan.

Alasan PT Nindya Karya tidak menyampaikan informasi hancurnya Temporary dan Cofferdam ke Pemerintah Jeneponto

Ditanya terkait dengan tidak memberikannya informasi ke pihak Pemerintah Jeneponto, Arif mengaku karena hancurnya temporary dan cofferdam bukan penyebab utama terjadinya banjir.

“Di situ itu tidak ada tampungan, tampungan air sedikit saja, tanggul itu kalau dia jebol bukan emergency, karena tidak ada efek ke hilir, efek ke hilir itu sekitar 10 sampai 20 meter, lain halnya kalau bendungan yang jebol,” ungkapnya.

Arif juga mengaku bahwa tinggi temporary dari dasar adalah 16 meter.

“Dari dasar pondasi itu 16 meter, kalau dari dasar pondasi bapak melihat air di terowongan, artinya sungai lama memang dalam, di atas terowongan itu cuma 2 meter, 2 meter di puncak terowongan, cofferdam itu menutup sungai untuk mengalihkan,” ujarnya.

Ditanya terkait Cofferdam atau Anak bendungan bisa dibuat dari beton bertulang, lembaran atau tiang baja, dan tanah, Arif mengaku beton itu terlalu mahal.

“Tidak, beton itu terlalu mahal, jadi kita pakai material yang di sekitarnya,” ujar Arif.

Berita Terkait
Komentar
Terkini