Heboh Rekaman Video Tuding NU-Kemenag Kerja Sama Atur Puasa Supaya 29 Hari: yang Lihat Hilal Dianggap Bohong

Terkini.id, Jakarta – Sebuah rekaman video yang menuding NU dan Kementerian Agama bekerja sama mengatur penetapan 1 Ramadan beredar di sosial media. Dalam video tersebut terlihat seseorang menyampaikan pesan tentang penetapan 1 ramadhan, didengar oleh kader PCNU Wonosobo yang hadir.

Dikabarkan bahwa video itu direkam beberapa hari sebelum keputusan sidang isbat untuk menetapkan 1 ramadhan.

Dalam video tersebut, seorang pembicara yang tidak diwartakan identitasnya, menyampaikan bahwa NU dan Kemenag sudah kerja sama menetapkan 1 ramadhan tepat pada hari minggu, 3 April 2022.

Baca Juga: Sentil Cak Imin, Yenny Wahid: Harusnya Jalin Hubungan Baik dengan...

Bahkan dirinya menegaskan apabila ada yang melihat hilal, NU dan Kemenag akan menilai itu sebagai kebohongan. Sepintas sang pembicara juga menjelaskan bahwa ada upaya penetapan jumlah hari puasa hanya 29 hari.

Meski tidak diwartakan identitas si pembicara, namun terlihat jelas di belakang dirinya terlihat tulisan PCNU Wonosobo. Hal tersebut disampaikan dalam rangka Muskercab atau Musyawarah Kerja Cabang.

Baca Juga: Soroti Perdebatan Yenny dengan Cak Imin, Gus Umar: Namanya Politik,...

Video itu diunggah oleh akun twitter @nung_306, sebagaimana dilansir Terkini.id pada Senin, 4 April 2022.

Video PCNU Wonosobo, unggahan twitter @nung_306 (twitter @nung_306)

Kementerian Agama sudah sepakat, dan insya Allah didukung oleh Nahdlatul Ulama, bahwa puasa akan jatuh pada hari Ahad (minggu) tanggal 3 April,” ujar sang pembicara menjelaskan.

“Sehingga syabannya itu nanti isti’mal 30 hari, puasanya hanya 29 hari,” ujar sang pembicara melanjutkan.

Baca Juga: Soroti Perdebatan Yenny dengan Cak Imin, Gus Umar: Namanya Politik,...

“Sehingga kalau seandainya nanti malam Sabtu atau tanggal 1, karena ijtima itu nanti akan terjadi tanggal 1 April, jam 13, dengan ketinggian hilal 2 derajat,” ujar pembicara melanjutkan.

“Kalau seandainya nanti ada yang melihat hilal itu oleh NU dan Kementerian Agama dianggap itu adalah kesaksian yang bohong! Ini supaya kita ketahui bersama enggeh,” ujar sang pembicara menandaskan.

Bagikan