Terkini.id, Jakarta – Sekretaris Jenderal Asosiasi Driver Online (ADO) Wiwit Sudarsono menilai kenaikan tarif ojek online (ojol) tidak cukup untuk menutupi biaya operasional.
Ia menyebut keputusan pemerintah yang menaikkan tarif ojol di angka 8,7 persen masih jauh dari harapan para driver.
“Membandingkan dengan kenaikan BBM yang 30 persen, tentunya penyesuaian tarif ojol tidak cukup untuk menutupi biaya operasional di lapangan,” ujar Wiwit seperti dilansir CNN Indonesia, Kamis, 8 September 2022.
Wiwit berharap pemerintah dapat mengkaji ulang besaran kenaikan tarif ojol.
Ia juga berharap aplikator memberlakukan potongan biaya jasa sewa aplikasi sekitar 10 persen dari angka maksimal 15 persen yang ditetapkan pemerintah.
- Pertamina Pastikan Stok BBM Sulawesi Aman, Masyarakat Diminta Tidak Terpengaruh Isu Kenaikan Harga
- 50.000 Buruh Demo Hari Ini di Depan Istana Akan Suarakan 6 Tuntutan
- Jokowi Berharap Tahun 2024 Tak Ada Lagi Kemiskinan, Bachrum Achmadi: Pembodohan Publik!
- Polemik pernyataan Kombes Setyo, Poengky Indarty Buka Suara!
- Aksi Demonstrasi Kenaikan BBM Ditengah G20, Anthony Budiawan: Harusnya Pemerintah Berpikir..
Lebih lanjut, Wiwit menyayangkan keputusan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) yang tidak ikut mengerek tarif taksi online.
Padahal, taksi online juga ikut terdampak dengan kenaikan harga BBM bersubsidi.
“Dan kami juga menyayangkan keputusan kemenhub yang tidak ikut mengumumkan penyesuaian tarif taksi online yang mana taksi online juga terdampak dengan kenaikan harga BBM Bersubsidi,” jelas Wiwit.
Hingga berita ini diturunkan belum redaksi terkini.id belum menemukan tanggapan dari Kemenhub mengenai hal ini.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
