Makassar Terkini
Masuk

Tes KPK Tanyakan Qunut, Anwar Abbas: Melanggar Kebebasan Beribadah

Terkini.id, Jakarta – Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas mengkritik pertanyataan soal doa qunut dalam tes wawasan kebangsaan yang diselenggarakan KPK kepada pegawainya.

Seperti diketahui, tes wawasan kebangsaan ini adalah salah satu rangkaian tes alih status pegawai KPK menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN).

Sebelumnya, salah satu pegawai KPK yang mengikuti tes wawasan kebangsaan mengatakan bahwa salah satu pertanyaan yang diajukan kepadanya yakni apakah ia membaca qunut saat salat subuh.

“Ya ditanya subuhnya pakai qunut apa nggak? Ditanya Islam-nya Islam apa? Ada yang ditanya kenapa belum nikah, masih ada hasrat apa nggak?” ujarnya pada Rabu, 5 Mei 2021, dilansir dari Detik News.

Anwar Abbas lantas mempertanyakan kejelasan mengenai jawaban apa yang akan dianggap benar oleh KPK atas pertanyaan tersebut.

“Saya tidak tahu betul bentuk pertanyaannya tentang qunut itu seperti apa. Apakah pertanyaannya berupa ‘apakah anda qunut atau tidak?’ Lalu kalau yang ditanya menjawab dia qunut atau tidak qunut pertanyaan saya jawaban mana yang dianggap benar oleh KPK, apakah yang membaca qunut atau tidak?” Anwar Abbas, Kamis, 6 Mei 2021.

Menurut Anwar, jawaban apapun yang dianggap benar oleh KPK akan membuat lembaga itu melanggar UU soal kebebasan beragama.

Sebab, jika membenarkan yang satu berarti menyalahkan yang lain. Padahal doa qunut dalam salat adalah hal yang bersifat furu’iyah atau cabang dan bukan masuk ke dalam masalah yang bersifat ushuliyyah atau pokok.

“Begitu KPK membenarkan salah satunya dan menyalahkan yang lain maka KPK menurut saya sudah tidak mencerminkan dirinya sebagai lembaga negara dan telah melanggar Pasal 29 ayat 2 UUD 1945 yang berbunyi: ‘Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu’,” jelas Anwar.

Anwar menjelaskan bahwa membaca doa qunut dalam salat adalah pilihan. Oleh sebab itulah, menganggap salah satu pilihan salah berarti melanggar undang-undang yang disebutkan di atas.

“Di dalam Islam ketika salat subuh ada pandangan yang mengharuskan seseorang membaca qunut tapi juga ada pihak lain yang menyatakan tidak harus. Lalu bagaimana kita melihat masalah ini?” kata Anwar Abbas.

“Oleh MUI masalah qunut ini dilihat sebagai masalah furu’iyah (cabang) bukan masuk ke dalam masalah yang bersifat ushuliyyah (pokok). Dalam hal yang terkait dengan masalah-masalah furu’iyah ini kemungkinan berbedanya sangat tinggi,” tambahnya.