TGPF Tidak Bakal Ungkap Penyerang Novel Baswedan

Novel Baswedan
Novel Baswedan. (foto : netralnews.com)

Terkini.id, Jakarta – Tim gabungan pencari fakta (TGPF) kasus Novel Baswedan menegaskan tidak bakal mengungkapkan siapa terduga pelaku serangan terhadap penyidik KPK tersebut.

Hal itu ditegaskan saat rilis penyelidikan yang disampaikan pada Rabu 17 Juli 2019.

“Yang lebih penting, arah dari penyelidikan yang (akan) kami sampaikan,” kata Hendardi, anggota tim pakar TGPF kasus Novel Baswedan, seperti dilansir dari BBC, Selasa 16 Juli 2019.

Hendardi menolak mengomentari segala sesuatu yang terkait hasil penyelidikan, termasuk pertanyaan apakah TGPF sudah menemukan terduga pelaku atau belum dalam kasus ini.

Sementara, seorang pejabat kepolisian menegaskan bahwa TGPF tidak berwenang menyatakan siapa terduga di balik kasus kekerasan tersebut.

“Tim investigasi sifatnya open investigasi dan tidak bersifat pro justisia,” kata juru bicara Mabes Polri, Brigjen Polisi Dedi Prasetyo, saat dihubungi BBC News Indonesia melalui telepon, Selasa.

“Yang bersifat pro justisia, proses penyidikannya itu adalah di pihak Polri. Penyidik nanti yang akan menindaklanjuti hasil temuan itu,” jelasnya.

Namun menurut Dedi, tidak ada jaminan penyelidikan lanjutan itu bisa berjalan cepat.

“Akan memakan waktu. Menyelesaikan satu kasus itu tidak setahun atau dua tahun, bisa beberapa tahun,” katanya.

Dia mencontohkan kasus serupa di Filipina, AS, Eropa yang memakan waktu lama.

Dibentuk enam bulan lalu, TGPF dibentuk oleh kepolisian di tengah tudingan pegiat antikorupsi bahwa proses penyelidikan penyerangan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan, berjalan lambat.

TGPF terdiri 65 orang, yang didominasi anggota kepolisian, juga terdiri tim pakar, yaitu mantan wakil pimpinan KPK dan guru besar hukum pidana Universitas Indonesia, Indriyanto Seno Adji, peniliti LIPI Hermawan Sulistyo, Ketua Ikatan Sarjana Hukum Indonesia, serta Amzulian Rifai.

Ada pula pegiat HAM yang tergabung di dalamnya, yaitu Ketua Setara Institut, Hendardi, Komisioner Kompolnas Poengky Indarti, mantan Komisioner Komnas HAM, Nur Kholis, dan Ifdhal Kasim.

Lima orang dari KPK juga bergabung di dalamnya.

Sejak awal, tim ini ditolak para pegiat antikorupsi yang menuntut dibentuk tim independen yang bertanggungjawab kepada presiden untuk mengusut kasus ini, namun pemerintah memilih TGPF yang bertanggung jawab kepada Kapolri.

Novel Baswedan disiram air keras oleh beberapa orang tak dikenal pada 11 April 2017 dan sampai sekarang tidak terungkap siapa pelaku penyerangan maupun aktor di belakangnya.

Hasil penyelidikan TGPF yang kemungkinan besar tidak mengungkap siapa aktor di balik penyerangan Novel Baswedan, dijadikan sebagai salah-satu alasan para pegiat antikorupsi untuk tidak terlalu berharap pada temuan tim tersebut.

“Dari awal kami tidak punya gambaran bahwa tim ini akan menuntaskan penyerangan terhadap Novel Baswedan,” kata pegiat Indonesian Corruption Watch (ICW), Lalola Easter, kepada BBC News Indonesia, Selasa 16 Juli 2019.

Alasannya, tim yang terdiri 65 orang dari berbagai unsur di antaranya praktisi yang menjadi tim pakar, internal KPK, serta unsur kepolisian, bertanggung jawab kepada Kapolri.

Berita Terkait
Komentar
Terkini