Tidak Semua Paham, Ini Kunci Keberlangsungan Bisnis di Masa Depan

Webinar Bussiness Leadership Series#7 "Future of Human Capital Management" yang digelar MM UGM, Kafegama MM, serta MMSA UGM, dan dimoderatori Dosen Institut Bisnis Nusantara dan IBM Asmi, Sundari Soekotjo, membahas strategi dan cara mengoptimalkan SDM berinovasi dalam sebuah organisasi atau perusahaan

Terkini.id – Disrupsi teknologi ditambah dengan pandemi Covid-19 memaksa perilaku bisnis untuk berubah. Inovasi pun menjadi sebuah keniscayaan untuk keberlangsungan sebuah usaha.

Sayangnya, tidak semua perusahaan memahami kunci dari inovasi adalah sumber daya manusia (SDM).

Webinar Bussiness Leadership Series#7 “Future of Human Capital Management” yang digelar MM UGM, Kafegama MM, serta MMSA UGM, dan dimoderatori Dosen Institut Bisnis Nusantara dan IBM Asmi, Sundari Soekotjo, membahas strategi dan cara mengoptimalkan SDM berinovasi dalam sebuah organisasi atau perusahaan.

“Inovasi penting untuk bertahan, sebab lingkungan juga terus berubah,” ujar Kiki Sudiana, HRD Telkom Uniiversity, Sabtu 29 Agustus 2020.

Ia mengungkapkan inovasi berbeda dengan penemuan dan kreativitas. Inovasi harus memiliki unsur kebaruan, manfaat, dan diterapkan.

Menarik untuk Anda:

Menurut Kiki, perusahaan yang tidak berinovasi akan ketinggalan. SDM dalam sebuah perusahaan atau organisasi harus didorong untuk berinovasi dan ini menjadi tugas divisi SDM.

“Divisi SDM dalam sebuah organisasi adalah menyiapkan SDM, menyiapkan iklim, dan pembuatan kebijakan di internal perusahaan,” ucapnya.

Ia memaparkan, menyiapkan SDM bisa melalui pembekalan di seluruh lini dengan tools yang tepat, seperti brainstorming, design thinking, agile teamwork, user experience, dan sebagainya.

Sarana ini biasanya digunakan oleh startup, tetapi sangat bisa diterapkan di perusahaan konvensional yang ingin berinovasi.

Sementara, menyiapkan iklim inovasi dari sisi SDM berarti memberikan ruang dan waktu bagi pegawai untuk beride, mendukung ide pegawai, melibatkan pegawai dalam menjawab tantangan perusahaan, menerapkan kepercayaan dan keterbukaan, menciptakan suasana kerja yang menyenangkan, serta penyelesaian konflik yang matang.

“Toleransi terhadap kesalahan juga mempengaruhi inovasi SDM,” kata Kiki.

Ia mencontohkan, pegawai yang bereksperimen dengan tujuan inovasi namun melakukan kesalahan dan langsung diberi surat peringatan, maka memiliki kecenderungan mematikan daya inovasinya.

Pertimbangannya, upaya inovasi justru berujung kesalahan dan mendapatkan hukuman.

Chief Human Capital Officer PT. Kimia Farma, Tbk, Dharma Syahputra, menuturkan respons terbaik menghadapi disrupsi adalah dengan kelincahan.

Perusahaan harus melakukan transformasi dalam bekerja, memakai cara dan pendekatan baru, serta rasionalisasi perusahaan dengan reskill tenaga kerja.

“Perusahaan harus menjalani adaptasi kebiasaan baru sebelum maupun sesudah vaksin ditemukan,” ujarnya.

Ia memaparkan sejumlah langkah yang bisa ditempuh divisi SDM perusahaan untuk menuju next normal.

Pertama, memproteksi karyawan dengan memastikan kesehatan karyawan di tengah pandemi Covid-19. Kedua, pengaturan produktivitas dan ketiga, mengatur keberlanjutan.

“Keberlanjutan berarti memastikan keberlanjutan bisnis, termasuk beradaptasi terhadap hal-hal baru pada masa transisi,” kata Dharma.

Setelah itu, perusahaan bisa menjalankan usahanya dengan cara yang baru, termasuk serta menangkap peluang yang terdapat di dalamnya atau mengkapitalisasi peluang baru.

Direktur PT Pinasthika dan Ketua Kagama Human Capital, Adi M. Soekirno, memaparkan strategi mencetak talenta di industri 4.0. Saat ini, SDM bukan sekadar syarat administratif, melainkan menjadi pemain bisnis.

“Tantangan SDM bagaimana mengembangkan nilai dan teknologi, mengelola manajemen talenta, dan ini perlu dijawab dari sisi orang atau SDMnya,” ujarnya.

Berdasarkan survei sebuah konsultan di Amerika, lebih dari 54 persen perusahaan kekurangan digital talent sehingga menghambat transformasi.

Ini terjadi di negara-negara yang dianggap negara maju. Lantas apa yang harus dilakukan?

Adi memaparkan untuk mencetak talenta harus memformulasikan strategi talenta terlebih dulu. Setelah itu, mengindentifikasi posisi kunci termasuk cara mendapatkan talenta yang dibutuhkan perusahaan.

“Lalu membuat program pengembangan dan program untuk mempertahankan orang-orang bertalenta melalui kompensasi, misalnya,” tuturnya.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Jelang Debat Kandidat, Calon Bupati Nicodemus Pilih Cicipi Makanan Ringan Bersama Tim

Satgas Mulai Siapkan Logistik dan SDM Untuk Vaksinasi COVID-19

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar