BEBERAPA tahun silam, saat saya sedang jaga malam di rumah sakit, sekitar pukul 2 dini hari, datang seorang ibu setengah baya bersama putrinya, seorang remaja perempuan, kira-kira berusia 18 tahun.
“Dok, tolong anak saya. Sejak tadi perutnya kesakitan, sekarang sudah tak tertahankan. Sampai keluar keringat dingin,” katanya dengan panik.
Saya menoleh ke arah sang putri. Wajahnya pucat, tubuhnya tampak lemah. Perutnya membuncit.
“Iya, anakku kena tumor, Dok. Sudah empat bulan makin besar. Saya takut perutnya pecah. Tolong ya, Dok”ucap sang ibu dengan mata memelas, nyaris menangis.
Segera saya minta gadis itu untuk berbaring di atas meja periksa. Saya mulai dengan pemeriksaan menyeluruh: inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi.
- Innalillahi, Putra Mantan Gubernur HZB Palaguna, Mawang Palaguna Meninggal Dunia
- Bupati Andi Utta Apresiasi KM Bulukumba di Rantau yang Konsisten Berkurban untuk Kampung Halaman
- Perjalanan Telkomsel Selama 31 Tahun Menjaga Semangat 'Melayani Sepenuh Hati'
- Kisah Haru Opa Liu, Warga Kelahiran Makassar yang Bangun "Indonesia Kecil" di Tiongkok
- MaxOne Hotel & Resort Makassar Gelar Salat Ied dan Salurkan Daging Kurban ke Warga Sekitar
Namun saat palpasi meraba bagian perut, saya menemukan sesuatu yang tidak biasa. Terasa ada bagian-bagian kecil bagian janin.
Saya menarik napas panjang. Huff… sepertinya akan ada drama lagi, batinku.
Belum sempat saya lanjutkan pemeriksaan, tiba-tiba keluar rembesan air ketuban dari jalan lahir. Lalu, tanpa aba-aba, kepala bayi muncul dari jalan lahir.
Saya refleks mengambil tindakan. Menolong persalinan darurat yang terjadi begitu cepat dan tak terduga.
Saking fokusnya, saya tidak sadar bahwa sang ibu yang tadi panik sudah pingsan di luar ruang periksa.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
