Tumor yang Menangis

Tumor yang Menangis

EP
Dr. dr. Dewi Setiawati, Sp.OG., M.Kes.
Echa Panrita Lopi

Tim Redaksi

BEBERAPA tahun silam, saat saya sedang jaga malam di rumah sakit, sekitar pukul 2 dini hari, datang seorang ibu setengah baya bersama putrinya, seorang remaja perempuan, kira-kira berusia 18 tahun.

“Dok, tolong anak saya. Sejak tadi perutnya kesakitan, sekarang sudah tak tertahankan. Sampai keluar keringat dingin,” katanya dengan panik.

Saya menoleh ke arah sang putri. Wajahnya pucat, tubuhnya tampak lemah. Perutnya membuncit.

“Iya, anakku kena tumor, Dok. Sudah empat bulan makin besar. Saya takut perutnya pecah. Tolong ya, Dok”ucap sang ibu dengan mata memelas, nyaris menangis.

Segera saya minta gadis itu untuk berbaring di atas meja periksa. Saya mulai dengan pemeriksaan menyeluruh: inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi.

Baca Juga

Namun saat palpasi meraba bagian perut, saya menemukan sesuatu yang tidak biasa. Terasa ada bagian-bagian kecil bagian janin.

Saya menarik napas panjang. Huff… sepertinya akan ada drama lagi, batinku.

Belum sempat saya lanjutkan pemeriksaan, tiba-tiba keluar rembesan air ketuban dari jalan lahir. Lalu, tanpa aba-aba, kepala bayi muncul dari jalan lahir.

Saya refleks mengambil tindakan. Menolong persalinan darurat yang terjadi begitu cepat dan tak terduga.

Saking fokusnya, saya tidak sadar bahwa sang ibu yang tadi panik sudah pingsan di luar ruang periksa.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.