Beberapa menit kemudian, bayi lahir dengan selamat. Merah, sehat, dan langsung menangis.
Saya menatap si gadis muda itu. Ia memeluk bayinya dengan mata berkaca-kaca. Lalu saya berkata lembut,
“Besarkan anakmu dengan penuh tanggung jawab. Jangan ulangi kesalahan yang sama. Beranilah berkomunikasi dengan orang tuamu. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Perbanyak istighfar, dan mohonlah ampunan kepada Allah.”
Dia mengangguk pelan. Air mata mulai jatuh di pipinya. Saya tak banyak bertanya tentang apa yang terjadi. Saya tahu, ada luka dan cerita panjang di balik semuanya.
Yang jelas, sang ibu yang kini resmi menjadi nenek pasti sangat terkejut dengan kejadian ini. Sebuah “tumor” yang ternyata adalah cucunya sendiri.
- BMKG: Sejumlah Wilayah Sulsel Berpotensi Diguyur Hujan Ringan Hari Ini 17 Juni
- Minta Maaf Secara Terbuka, Kapolres Jeneponto Jamin Berikan Sanksi Tegas Polis yang Intimidasi Wartawan
- Pertamina Patra Niaga Sulawesi Perkuat Pasokan Biosolar dan Pengaturan Layanan di SPBU Maros
- TKIT Nurul Uswah Tandutedong Lepas 51 Anak Didik, Bupati Minta Anak Sidrap Berani Berkompetisi
- 35 Struktur Kepengurusan DPW PPP Sulsel Akan Dilantik pada 20 Juni 2026, Diisi banyak Generasi Milenial dan Gen Z
Fenomena seperti ini semakin sering terjadi.
Lalu siapa yang harus disalahkan?
Apakah si anak, karena pergaulan bebas?
Atau orang tua, yang mungkin terlalu sibuk, hingga lupa mendidik dan mengawasi?
Atau sistem sosial kita, yang makin permisif?
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
