Beberapa menit kemudian, bayi lahir dengan selamat. Merah, sehat, dan langsung menangis.
Saya menatap si gadis muda itu. Ia memeluk bayinya dengan mata berkaca-kaca. Lalu saya berkata lembut,
“Besarkan anakmu dengan penuh tanggung jawab. Jangan ulangi kesalahan yang sama. Beranilah berkomunikasi dengan orang tuamu. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Perbanyak istighfar, dan mohonlah ampunan kepada Allah.”
Dia mengangguk pelan. Air mata mulai jatuh di pipinya. Saya tak banyak bertanya tentang apa yang terjadi. Saya tahu, ada luka dan cerita panjang di balik semuanya.
Yang jelas, sang ibu yang kini resmi menjadi nenek pasti sangat terkejut dengan kejadian ini. Sebuah “tumor” yang ternyata adalah cucunya sendiri.
- Di Balik Jeritan Siswa Kejadian 23 April 2026, Kasus MBG Terhenti di Tengah Jalan?
- Kanwil DJP Sulselbartra Peringkat Kedua Nasional Pertumbuhan Pelaporan SPT 2025
- Upacara Hardiknas, Bupati Tegaskan Komitmen Pemkab Jeneponto Mencetak Generasi Emas
- XLSMART Gelontorkan Rp200 Juta, 33 Ribu UMKM Perempuan Berebut Modal Pintar 2026
- Ulama dan Umara: Dua Pilar Peradaban untuk Sulawesi Selatan Maju dan Berkarakter
Fenomena seperti ini semakin sering terjadi.
Lalu siapa yang harus disalahkan?
Apakah si anak, karena pergaulan bebas?
Atau orang tua, yang mungkin terlalu sibuk, hingga lupa mendidik dan mengawasi?
Atau sistem sosial kita, yang makin permisif?
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
