UAS Sebut Makan Babi Bisa Saja Halal, Ferdinand: Jangan Sampai Naik Harga

Terkini.id, Jakarta – Mantan Politikus Demokrat, Ferdinand Hutahaean menanggapi pernyataan pendakwah kondang Ustaz Abdul Somad (UAS) yang menyebut makan babi tak selamanya haram dan bisa saja halal.

Ferdinand Hutahaean lewat cuitannya di Twitter, Senin 19 Juli 2021, menanggapi pernyataan UAS tersebut dengan berharap jangan sampai harga babi mengalami kenaikan.

“Jangan sampai naik harga,” cuit Ferdinand Hutahaean.

Baca Juga: Sindir Anies Tak Miliki Kemampuan Berkarya Nyata, Ferdinand Hutahaean: Kasihan...

Dalam cuitannya itu, Ferdinand Hutahaean juga menyertakan foto tangkapan layar pemberitaan berjudul ‘Pendakwah UAS: Makan Babi Tak Selamanya Haram, Bisa Saja Halal’.

Diberitakan sebelumnya, pendakwah asal Riau Ustaz Abdul Somad alias UAS menyebut bahwa makan daging babi bagi umat Islam tidak selamanya haram namun bisa saja halal saat kondisi tertentu.

Baca Juga: Singgung Riba, Pendakwah UAS: Haram Terima Beasiswa dari Bank Konvensional

Hal itu disampaikan Ustaz Abdul Somad dalam momen diskusi virtual bersama IDI yang ditayangkan kanal Youtube Ustadz Menjawab.

“Babi itu haram, tapi makan babi tidak selamanya haram,” ujar Ustaz Abdul Somad.

UAS awalnya menjelaskan bahwa babi yang dipotong dengan menyebut nama Allah tidak akan membuat dagingnya menjadi halal.

Baca Juga: Singgung Riba, Pendakwah UAS: Haram Terima Beasiswa dari Bank Konvensional

Bahkan, kata UAS, saat dimasak di rumah makan muslim makanan tersebut tetap haram dikonsumsi.

“Babi tidak bisa jadi halal. Babi dipotong atas nama Allah, tetap haram. Babi direndang atau digulai, tetap haram. Babi dimasak rumah makan muslim juga haram,” ungkapnya.

Namun, menurut UAS, ada satu momen kondisi yang membuat makanan dari daging babi menjadi halal dikonsumsi umat Islam.

“Tapi makan babi bisa halal. Nah, gimana ceritanya?,” tutur Abdul Somad.

Ia pun menjelaskan bahwa menyantap daging babi bisa saja halal saat kondisi darurat. Misalnya, terjebak di tengah hutan, tersesat, dan tak menemukan makanan lain selain babi.

“Jadi, ketika masuk di dalam hutan, dan di dalam hutan itu tidak ada makanan, tidak ada pisang, tidak ada umbi-umbian. Sementara (saat itu) pilihannya hanya babi atau mati. Maka saat itu tidak boleh (umat Islam) pilih mati. Jadi, boleh makan babi karena (situasinya) darurat,” ujarnya.

Bagikan