Uzlah, Diam di Rumah

Firdaus Muhammad. (terkini.id/hasbi) kolom firdaus muhammad
Firdaus Muhammad. (terkini.id/hasbi)

Beruzlah atau berdiam diri rumah menjadi terapi yang tepat menghadapi virus korona, sesuai anjuran pemerintah dan fatwa ulama. Terutama dengan hadirnya ramadhan ini, momentum terindah adalah beruzlah.

Setidaknya, Aidh bin Abdullah Al-Qarni, waliullah, mengingatkan hal itu dalam kitab berjudul; Laa Tahzan, jangan bersedih.

Kitab ini berisi motivasi pengharapan hidup lebih baik. Terapi hidup lebih indah dan bermakna.

Kenapa harus uzlah? Kita butuh halte persinggahan untuk menghindarkan diri dari hiruk pikuk kehidupan duniawi yang gaduh. Menghindarkan diri dari pengaruh buruk pergaulan yang tidak bermanfaat.

Berdiam diri di rumah bukan sekadar mengisolasi diri di kamar atau ruangan tertentu, melainkan memaksimalkan diri berzikir mengingat Allah.

Menarik untuk Anda:

Berzikir niscaya mendatangkan keteduhan hati, ketenangan jiwa. Beruzlah menjadi hal sulit dilakukan di tengah tuntutan kesibukan selama ini, terutama di kota metropolis.

Momentum berdiam diri dengan kondisi sekarang menjadi pilihan tepat untuk menjernihkan pikiran dan perasaan.

Proses introspeksi diri dilalui dengan mengingat kesalahan dan kekhilafaan, baik pada diri sendiri, keluarga, juga pada sahabat-sahabat.

Harapannya, dengan mengingat kesalahan demi kesalahan menjadikan kita makin sadar, betapa banyak kesalahan yang telah diperbuat karena intensitas komunikasi yang memberi ruang berbuat salah.

Lebih dari itu, jumlah kesalahan pada sang khalik jauh lebih besar. Mungkin saja dalam setiap harinya berbuat kesalahan, dosa. Lalai shalat lima waktu misalnya, dengan dalih sibuk sehingga waktu shalat diulur.

Bahkan mungkin saja ada yang justru meninggalkannya, semata karena alasan tuntutan kerja yang mendesak sehingga tidak ada waktu untuk sang khalik.

Momen uzlah inilah menjadi pertapaan kita mengenang seluruh kesalahan itu agar mampu menemukan jalan terbaik untuk lebih dekat pada sang khalik.

Aidh al-Qarni mengingatkan, sesungguhnya menghindarkan diri dari hal-hal yang membuat diri lalai dari mengerjakan kebaikan dan ketaan merupakan terapi paling suilit  yang telah diuji coba oleh para tabib hati.

Uzlah atau mengisolir diri dari dosa, kelalaian menjalankan perintah Allah, menjadi pribadi yang berlari meriah keridhaan-Nya. Aidh al-Qarni, ingatkan, tangisilah dasa-dosa Anda, jaga lisan Anda, dan betahlah Anda diam di rumah.

Selamatkan waktu Anda dengan mengisinya kebaikan, beribadah di rumah. Jauhkan hidup Anda dari kesia-siaan, usia yang tersisa tidak sia-sia. Lisan terhindar dari ghibah mengumpat, jemari yang lincah menyebar hoaks adu domba di media sosial.

Mulailah berdiam diri di rumah untuk fokus ibadah, sejenak berjedah dari hiruk pikuk media sosial yang menyita waktu untuk berjama’ah, tadarus, zikir dan taubat. Segeralah beruzlah untuk meraih cinta Allah yang tak bertepi. Semoga.

Firdaus Muhammad,

Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar dan Ketua Komisi Dakwah MUI Sulsel

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Debat Calon Bupati-Wakil Bupati Bulukumba: Tanggapan Putra Daerah

Tolak Politik Uang untuk Pilkada yang Bermartabat!

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar