Ziarah Nabi

Firdaus Muhammad. (terkini.id/hasbi) kolom firdaus muhammad
Firdaus Muhammad. (terkini.id/hasbi)

YA Nabi, apakah aku tidak mencintaimu? Pertanyaan itu membuncah kala pertama kali berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW pada Ramadan 1438 Hijriah, Juni 2017.

Dalam barisan antrian yang cukup padat dalam masjid Raudatul Jannah, terutama di sekitar mimbar dan makam nabi yang berjarak sekira 7 meter, para peziarah melambat dengan iringan Shalawat.

Sallu Alan Nabii Assalamu Alaika Ya Habiballah. Mereka larut dalam kerinduan yang tak tertahankan. Tapi kenapa saya tidak? Kenapa saya seperti mesin tua yang lambat panas.

Saya hanya bisa menyaksikan mereka meratap dengan linangan air mata melepas rindu pada nabi.

Seketika saya membatin, “Ya, Rasul, apakah aku ini tidak mencintaimu? Belum lepas ucapan dalam hati itu, tiba-tiba terasa ada energi.

Tubuhku bergetar. “Ya, Rasul, aku datang menjengukmu karena aku mencintaimu… Allahumma Salli Alaa Muhammad.”

Air mata tak tertahan lagi saat posisiku tepat di hadapan makam sang kekasih Allah. Keluar dari Raudah, menjelang matahari terbit, aku melihat peziarah berduyun duyun ke makam Baqi.

Baqi tempat para sahabat dimakamkan. Setelah itu saya memilih kembali masuk ke masjid Nabawi.

Aku kembali bersimpuh, mengulang kembali pertanyaan, apakah aku tidak mencintaimu, ya rasulullah? Jangan jangan aku tidak termasuk dalam radius cintamu karena jarang menyebut namamu?

Salah satu tanda cinta itu adalah fazikran kasira, banyak menyebut nama yang dicintainya.

Bagaimana mungkin aku mengaku mencintaimu ya Rasul jika bilangan shalawatku hanya sejumlah jemariku? Apalagi saat menyebut namamu aku justru menghadirkan yang lain.

Apakah aku sungguh-sungguh mencintaimu, apakah aku benar-benar mengenalmu. Mungkin hanya menghafalkan namamu? mungkin.

Sekiranya aku mencintaimu, aku mengenalmu baik-baik degan segenap rasa yang kumiliki, menyimak sabda dalam hadis-hadismu, mencontoh segenap keteladananmu. Engkau tidak pernah marah, semntara saya hampir tidak pernah tidak marah.

Untung aku bukan pejabat, karena aku tidak bisa jamin diriku. Bisa saja jadi koruptor, menipu rakyat, data kumanipulasi, semua kubingkai pencitraan.

Bisa lalu lalang ke Mekkah dan Madinah menziarahimu, meski aku yakin engkau menolakku karena berziarah dengan uang kotor dan haram.

Untung aku bukan pengusaha yang culas. Pengusaha kakap yang dapat membeli apa saja, menggeser tanah, menggusur lahan, dan mencaploknya.

Lalu aku bingkai diri dengan memperbanyak bersedekah hingga berhaji, dan menziarahimu. Engkau tidak mungkin menerimaku menjadi tamu yang menziarahimu, sekalipun jasadku lalu lalalng di makam engkau, ya Rasul.

Aku hanya seorang guru yang sering mengajarkan anak-anak didikku untuk mencintaimu, bershalawat kepadamu. Mungkin karena itu, aku tiba-tiba mendapat energi itu, air mata kerinduan membuncah kala itu.

Teringat sahabatku, Muhary Wahyu Nurba, penyair yang sangat mencintaimu, ya Rasul. Dia berkisah, berat kakinya melangkah untuk meninggalkan pusaramu.

Yang menguatkannya adalah janjinya untuk datang kembali menziarahimu. Dialah yang bercerita saat pertama berziarah dengan wajah yang sembab oleh linangan air matanya.

Dia sangat mencintaimu, ya Rasul. Dialah yang menuntunku untuk selalu menghadirkan cinta padamu dengan Shalawat yang tak terbilang.

Kurindu kembali menziarahimu, ya Rasul, dengan segenap cintaku untukmu. Sallu alan Nabi. Shalawat dan salam untukmu, wahai kekasih terbaik.

Berita Terkait
Komentar
Terkini
Opini

Hajj Journey

SAAT ini umat Islam di seluruh dunia bersiap-siap menyambut datangnya bulan haji. Bahkan saat ini pun musim haji yang penuh hiruk pikuk itu telah
Opini

Seni Perang Sun Tzu

UMUM menerima Sun Tzu sebagai jenderal besar, ahli strategi militer, dan ahli filsafat. Ia dipandang sebagai penulis buku klasik “The Art of War” yang
Opini

Sebab Kita Semua adalah Garuda

HARI ini kita menyaksikan sebuah peristiwa bersejarah. Setelah semua kontestasi yang membuat bangsa ini terpolarisasi. Setelah hiruk pikuk perdebatan bahkan caci maki di media
Opini

Legalitas vs Moralitas

DALAM mendefenisikan kebenaran itu harus ada dua hal yang mendasari. Dasar legalitas (hukum) dan dasar moralitas (etika). Keduanya boleh jadi saling mengikat.Hukum tanpa moralitas
Opini

Keputusan Itu

SEBUAH keputusan itu tidak selamanya menyenangkan. Jangankan keputusan manusia, yang seringkali penuh dengan intrik kepentingan dan manipulasi.Keputusan Allah saja, jika tidak sesuai keinginan dan
Bisnis

Tutupnya Gerai Giant

GIANT itu dimiliki oleh Group Hero. Hero sendiri didirikan oleh MS Kurnia pada 23 Agustus 1971, namanya Hero Mini Supermarket yang bertempat di Jalan
Opini

Libra Bitcoin, Mata Uang Baru dari Facebook

BITCOIN memang belum bisa meruntuhkan mata uang. Bahkan sempat melemah. Tapi beberapa hari terakhir ini on fire lagi. Gara-gara Facebook bikin kejutan: meluncurkan 'mata
Opini

Bisikan Nurani

PARA ahli hikmah mengatakan, ada tiga hal yang manusia tak akan mampu dustai atau ingkari. Manusia boleh berpura-pura mengingkarinya. Tapi sesungguhnya ketiganya adalah realita