Puasa, Kesehatan, dan Pengalaman Masa Pagebluk Covid-19

Terkini.id, Makassar – Salah satu bagian ceramah Ramadan adalah terkait bahwa puasa itu menyehatkan. Seorang khatib atau da’i selalu mengingatkan itu di awal puasa. Bagi jamaah, dengan adanya maklumat itu, sudah memadai dengan penjelasan sabda baginda Rasul SAW “shumu tashihhu”.

Ketika itu disampaikan di mimbar masjid, musallah, dan pelbagai majelis lainnya menjadi sebuah pegangan. Tanpa mengurangi kepatuhan terhadap perintah, penjelasan dari seorang pakar yang meneliti bertahun-tahun, merupakan pelengkap untuk memaknai perintah ini.

Adapun seorang Ohsumi ini dijelaskan dalam dunia medis bahwa puasa dapat dijelaskan dengan konsep yang dinamakan authophagy. Atas usahanya kemudian diganjar dengan penghargaan nobel tahun 2016.

Baca Juga: Parah! Singgung Larangan Puasa Bagi Wanita Haid, Pendeta Saifuddin: Ngaco!...

Menahan makan dan minum, serta syahwat dan keinginan lainnya dalam batasan waktu tertentu dijelaskan Alquran telah dilalui umat sebelum umat baginda Muhammad SAW.

Sehingga menjalaninya, bukanlah terkait dengan kesehatan. Tetapi dimulai bahwa ini merupakan perintah yang wajib dijalankan.

Baca Juga: Penjelasan Mengapa Awal Puasa Berbeda Tapi Lebaran Bisa Bersamaan, Kamaruddin:...

Hanya saja, komsumsi justru meningkat. Masa-masa dimana usai sahur dan datangnya waktu imsak sampai berbuka puasa, menjadi kesempatan menahan lapar dan haus, serta pantangan puasa lainnya.

Pada kesempatan usai berbuka justru perilaku komsumtif masih menjadi praktik individual. Sehingga ini perlu dicermati. Jangan sampai esensi puasa untuk menekan makan dan minum, justru pada saat waktu puasa berlalu menjadi kesempatan “balas dendam”.

Sementara itu, tiga Ramadan terakhir kita lalui dengan iringan masa-masa pagebluk covid-19. Keseruan Ramadan dengan buka puasa bersama di masjid, tarawih, dan sahur on the road, tidak lagi menjadi bagian dari perayaan selama tiga tahun.

Baca Juga: Penjelasan Mengapa Awal Puasa Berbeda Tapi Lebaran Bisa Bersamaan, Kamaruddin:...

Namun demikian, berbagi dengan keluarga dan handai taulan tetap dilakukan. Keberadaan aplikasi pengantaran makanan dan barang memungkinkan untuk mengirim makanan baik untuk berbuka maupun untuk sahur kepada sanak keluarga dan kerabat, atau siapapun itu.

Di lingkungan tempat tinggal kami, Antang, Makassar, pemuda dan remaja masjid tetap menjalankan kegiatan berbuka puasa bersama. Makanan dan hidangan berbuka diantar ke rumah-rumah. 

Berbuka bersama dengan tetap berada di rumah masing-masing. Pemaknaan yang adaptif, walau di tengah pandemi, tidak mengurangi kesempatan untuk berbagi.

Kebiasaan menyambut Ramadan dilalui dengan mercon, petasan, dan bunyi-bunyian lainnya. Sebelum pandemi, Ramadan disambut dengan bunyi-bunyian. 

Kini, Ramadan menjadi sunyi dan bahkan berjarak. Dua Ramadan yang telah dilalui, bahkan dengan menjaga jarak. Sekalipun itu di masjid, bahkan dilengkapi dengan memakai master. Begitupun dengan mengecek suhu, dan kebiasaan untuk mencuci tangan.

Memasuki tahun ketiga, sekalipun masih tetap dengan status pandemi, masjid kembali dimakmurkan. Tidak lagi berjarak dengan seperangkat protokol lainnya.

Hanya saja, kesempatan melalui dua tahun sebelumnya dengan tarawih bersama keluarga inti menjadikan kebiasaan ini juga mulai diterima. Untuk tarawih, tidak lagi kebersamaan dalam jumlah yang banyak dengan berkumpul di masjid.

Untuk sebuah tarawih, berkumpul di ruang tengah keluarga dan menunaikan bersama keluarga inti menjadi pilihan untuk menikmati kekhusyuan tarawih.

Satu hal lagi, iringan rombongan kecil yang menggunakan bedug dan bunyi-bunyian tertentu untuk membangunkan sahur tidak lagi berjalan. Tergantikan dengan menempatkan jam alarm. Walaupun sesekali masih saja ada tragedi tidak bersahur. Dimana alarm yang diatur dalam gawai, tanpa disadari masih dalam status silent.

Akhirnya, Ramadan mengingatkan kita bahwa dudukan esensinya bukan pada “suara yang menggelegar”. Ramadan menjadi kesempatan terapi untuk sehat, begitu pula kemauan untuk berbagi dan juga menyelaraskan kehidupan dengan kembali mempersiapkan diri untuk fitrah.

Ismail Suardi Wekke
Komisi Pengkajian dan Penelitian
Majelis Ulama Indonesia
Kabupaten Maros

Bagikan