Vaksinasi Covid-19 Siswa SMP di Makassar Lamban, Sekolah Tatap Muka Tak Kunjung Digelar

Vaksinasi Covid-19 Siswa SMP di Makassar Lamban, Sekolah Tatap Muka Tak Kunjung Digelar

K
Kamsah
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, Makassar – Pelaksanaan vaksinasi Covid-19 bagi siswa SMP di Makassar terbilang lamban. Vaksinasi bagi siswa SMP baru mencapai 0,10 persen. 

Padahal, syarat pembelajaran sekolah tatap muka baru dimulai apabila guru, tenaga pendidik, dan siswa di sekolah tersebut sudah tuntas melaksanakan vaksinasi.

Daya tampung SMP Negeri di Kota Makassar sekitar 13.806 siswa. Sementara siswa yang telah rampung melakukan vaksinasi baru 1500.  

Lambatnya vaksinasi bagi siswa di Makassar lantaran stok dari pusat macet. 

Plt Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar Nielma Palamba mengatakan pihaknya akan kembali melakukan vaksinasi. Ada 1500 dosis yang disiapkan untuk siswa SMP 21.

Baca Juga

Rencana vaksinasi dijadwalkan pada 6 September 2021. 

“Itu nanti sasaran SMP 21 sehingga kami mau programkan lagi karena tersedia vaksinnya 6 September. Ini kejasama dengan BIN,” kata Nielma, Senin, 23 Agustus 2021.

Sebelumnya, Pemerintah Kota Makassar telah melakukan penyuntikan vaksin terhadap 1500 siswa di 2 sekolah, yaitu SMP 40 dan SMP 12. Seluruh siswa pada kedua sekolah tersebut juga sudah mendapatkan vaksinasi dosis kedua.

Nielma mengatakan vaksinasi siswa SMP di Makassar secara bertahap akan menyasar seluruh siswa. Ia mengatakan pihaknya terus berupaya menggenjot vaksinasi.

Pergelaran tatap muka, kata dia, menunggu vaksinasi seluruh siswa rampung. 

“Kalau guru sudah mencapai 100 persen,” tutupnya.

Sebelumnya, Wakil Wali Kota Makassar Fatmawati Rusdi mengharapakan vaksinasi bagi siswa bisa secepatnya rampung. Terlebih jumlah kasus Covid-19 terhadap anak di Indonesia cukup tinggi.

“Kita dukung ini apalagi anak-anak kita sudah setahun setengah mereka tidak masuk maka perlu secepatnya divaksin,” katanya.

Berdasarkan survei Dinas Pendidikan Nasional (Diknas), kualitas pendidikan di Kota Makassar mengalami penurunan selama pandemi Covid-19. 

Hanya sekitar 20 persen tenaga pengajar yang mampu beradaptasi dengan pembelajaran daring.

“Hampir 80 persen guru tidak mampu beradaptasi, dia menganggap bahwa daring itu sebuah kesulitan padahal 10 persen mengatakan inilah letak berinovasi itulah yang harus dicari,” kata Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto.

Menurut Danny, pandemi adalah proses seleksi alam yang memaparkan kemampuan guru dalam menjalankan proses pembelajaran.

“Jadi secara seleksi alam hanya 20 persen guru di Makassar punya kompetensi baik,” ucapnya.

Sebab itu, ia menilai kompetisi guru di masa pandemi mesti ditingkatkan dengan cara yang tersistem. Guru, kata dia, harus meningkatkan kualitas dalam menghadapi tantangan digital. 

Tak adanya pemetaan variasi Pembelajaran Jarak Jauh yang dibangun bersama antara guru, siswa, dan orang tua menyebabkan kebijakan terkesan menyamakan masalah, sehingga hanya satu solusi, yakni bantuan kuota internet.

Padahal, metode pembelajaran di masa pandemi dinilai sangat menentukan kualitas pendidikan. 

“Guru yang harus meningkatkan kualitas, jadi kita akan sedikit lebih tegas, lebih jelas karena sekarang kesulitan guru itu luar biasa sekali,” kata dia.

Sertifikasi yang menjadi tolak ukur peningkatan kualitas guru terbukti gagal meningkatkan guru. Danny menyebut akan melibatkan para profesor untuk diminta memberikan pendapat soal solusi pendidikan di masa pandemi.

“Ini yang harus ditarik ke jalan yg benar. Saya pikir ini karena ada pembiaran, dulu waktu kami periode pertama dari nol Adiwiyata jadi 100 Adiwiyata. Kita sementara menyusun ini dengan meminta pendapat para profesor,” tuturnya.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.