WALHI Beri Kritik Tajam atas Proyek Sampah Pemkot Makassar

WALHI Beri Kritik Tajam atas Proyek Sampah Pemkot Makassar

K
Kamsah

Penulis

Bertolak Belakang dengan Prinsip 3R

Kritik utama WALHI terletak pada dampak destruktif insinerator terhadap sistem pengelolaan sampah berbasis daur ulang.

Teknologi ini, menurut WALHI, meniadakan peran penting pemulung dan pelaku daur ulang yang selama ini menjadi ujung tombak pengurangan sampah secara organik di tingkat masyarakat.

“Insinerator itu butuh pasokan sampah terus-menerus agar efisien secara teknis. Artinya, akan ada dorongan untuk membakar semua sampah, termasuk sampah organik dan anorganik yang masih punya nilai guna,” tutur Fadli.

Ia menyebut hal ini sebagai bentuk sabotase terhadap prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle (3R) yang selama ini digaungkan pemerintah pusat.

Baca Juga

Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2023 menunjukkan, 60 persen sampah rumah tangga di Indonesia bisa dikompos, dan 20 persen lainnya bisa didaur ulang. Artinya, 80 persen sampah sebenarnya bisa ditangani tanpa dibakar atau dibuang ke TPA.

Belajar dari Gagalnya Proyek Serupa

Kekhawatiran WALHI bukan tanpa dasar. Sejumlah proyek insinerator di kota-kota lain seperti Depok, Hanoi, dan Manila mengalami penolakan luas karena menimbulkan pencemaran udara, potensi penyakit pernapasan, dan mengancam ekosistem sosial masyarakat sekitar.

Fadli mengingatkan, Makassar tidak perlu mengulang kesalahan serupa.

“Kalau kota lain saja menolak karena risiko yang ditimbulkan terlalu besar, mengapa Makassar justru memilih langkah itu?”

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.