Terkini.id, Makassar – Kota Makassar, Sulawesi Selatan, kembali dilanda bencana banjir yang melumpuhkan sejumlah wilayah pada awal tahun 2023. Direktur Eksekutif WALHI Sulawesi Selatan Muhammad Al Amin menyatakan bahwa hal ini merupakan konsekuensi dari krisis iklim yang sedang terjadi.
Pada saat yang sama ia melayangkan kritik terhadap respons pemerintah dalam menghadapi banjir.
“Perubahan iklim tidak bisa kita kendalikan, tetapi kita bisa mengurangi kerentanan kota kita terhadap bencana seperti banjir,” ujar Al Amin, Selasa, 14 Maret 2023.
Menurut Amin, ada pelbagai faktor kerentanan dalam menghadapi banjir di Kota Makassar. Mulai dari reklamasi, sampah dan sedimentasi, sistem drainase yang buruk, minimnya RTH dan resapan air, hingga limpasan dari hulu.
“Bercermin pada bulan Januari-Februari kemarin itu ada 2000 orang harus mengungsi. Air mencapai ketinggian 1-2 meter, 554 unit rumah terendam. Ini harus jadi refleksi bagi seluruh OPD,” ujar Amin.
- Wali Kota Makassar Minta Antrean BBM Tak Ganggu Masyarakat, Truk dan Bus Diusulkan Antre 21.00-05.00 WITA
- Atasi Antrean BBM, Wali Kota Makassar Cek Langsung SPBU dan Temukan Dua Nozzle Tak Berfungsi
- Munafri Arifuddin Raih Penghargaan Nasional, Pendidikan Kepulauan Jadi Fokus
- Wali Kota Appi Serukan OPD Bergerak: 12.939 Jiwa di Makassar Sudah Terima Bantuan Air Bersih
- Lantik Pejabat Fungsional, Wali kota Makassar Munafri Tekankan Pelayanan Publik Tak Boleh Sekadar Seremonial
Menurutnya, kota ini punya beberapa persoalan yang harus segera diselesaikan. Pertama, kota ini terhubung dengan kabupaten lain yang juga rentan terhadap bencana. Jika kabupaten penyangganya tidak bagus, maka situasi di Kota Makassar juga akan terganggu.
Kedua, sistem drainase yang buruk menyebabkan air tidak bisa mengalir dengan baik. Ketiga, minimnya RTH (Ruang Terbuka Hijau) dan resapan air. Terakhir, terkait dengan limbah dan sedimentasi yang menumpuk di sungai.
“Kalau bicara banjir ada rumusnya. Pertama, ancaman peristiwa lalu dikali dengan kerentanan lalu dibagi dengan kapasitas. Ancaman itu nyata, dunia sudah mengakui bahwa terjadi keadaan darurat, krisis iklim sudah nampak terjadi,” tuturnya.
Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan Pomanto, menyatakan bahwa ia menghargai kritik yang diberikan oleh Walhi Sulsel. Pihaknya akan segera mengambil tindakan untuk memperbaiki sistem drainase dan membersihkan sampah di sungai.
Danny Pomanto juga mengakui bahwa kepadatan penduduk di Kota Makassar menjadi salah satu faktor kerentanan terhadap banjir. Dalam peristiwa banjir yang terjadi pada awal tahun 2023, BPBD Makassar mencatat ada lebih dari 122 pohon yang tumbang.
Ia menekankan bahwa reklamasi pantai bisa menjadi salah satu solusi untuk mengurangi kerentanan kota terhadap banjir. Namun, hal ini harus dilakukan dengan benar dan sesuai dengan aturan yang berlaku.
“Reklamasi yang menahan rob dari laut sangat dibutuhkan di Kota Makassar. Namun, kita harus menolak reklamasi yang tidak sesuai dengan aturan,” tegas Danny Pomanto.
Danny Pomanto mengatakan pemerintah bisa memperbanyak jumlah RTH baik publik maupun privat untuk mengurangi kerentanan kota terhadap bencana banjir. Meski target 20 persen mungkin sulit dicapai.
“RTH, ini persoalan kecil dan sebenarnya susah jawabanya, kemarin 9,2 persen, sekarang 10,99 persen. Saya ambil kebijakan target RTH publik itu 10 persen, 20 persen tidak mungkin. Tetapi untuk mencukupi 30 persen kami berharap ada pada RTH privat, kita minta sumbangsi reklamasi dan itu sumbangsi terbesar di Kota Makassar,” tuturnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
