Wanita Ini Dipenjara Gegara Palsukan Surat PHK Demi Terima Bantuan Covid-19

Terkini.id, Singapura – Wanita ini dipenjara gegara palsukan surat PHK demi terima bantuan Covid-19. Setelah dipecat dari pekerjaannya di perusahaan lamanya, seorang warga negara Singapura, Tiong Shi Lin menemukan pekerjaan baru di perusahaan lain. Akan tetapi, ia memutuskan untuk berbohong kepada pemerintah Singapura dengan bilang masih menganggur.

Wanita berusia 31 tahun itu juga memalsukan surat pemutusan hubungan kerja (PHK) dari majikan barunya untuk menipu Kementerian Sosial dan Pembangunan Keluarga (MSF) agar menyetujui aplikasi keempatnya untuk program ‘Bantuan Hibah Covid-19’.

Skema dukungan keuangan melalui aplikasi tersebut, sejatinya dimaksudkan untuk membantu warga yang kehilangan pekerjaan atau kehilangan pendapatan lantaran pandemi Covid-19. Program terkait Covid-19 itu sendiri telah dibuka dan diberlakukan sejak Mei hingga Desember 2020 lalu.

Baca Juga: Dari Indonesia, Ternyata di Sini Sumber Impor Listrik dan Babi...

Tiong Shi Lin juga menerima total 4.000 dolar Singapura atau setara Rp 41.984.000 (kurs Rp 10.496 per dolar Singapura) dalam bentuk hibah tunai sebelum rekannya menemukan surat palsu di tas laptopnya ketika ia menyerahkannya untuk diperbaiki.

Pada Senin 13 September 2021 kemarin, warga Singapura itu divonis tujuh bulan penjara. Ia mengaku bersalah atas tiga tuduhan kecurangan dan pemalsuan, dengan empat tuduhan lainnya termasuk memberikan informasi palsu kepada pegawai negeri. Sehingga, dengan kasus-kasus itu ia dipertimbangkan untuk dijatuhi hukuman.

Baca Juga: Krisis Energi Melanda Singapura, RI Salah Satu Penyebabnya

Seperti dilaporkan reporter Louisa Tang dari Todayonline.com, Selasa 14 September 2021, Tiong Shi Lin akan mulai menjalani hukumannya minggu depan setelah meminta waktu untuk mengurus anak-anaknya.

Pengadilan Singapura mendengar, Tiong Shi Lin bekerja di departemen sumber daya manusia TVH Singapura, pemasok suku cadang untuk kendaraan industri, dari Oktober 2019 hingga Februari 2020.

Dua bulan setelah pekerjaannya dihentikan, ia mulai bekerja di perusahaan perangkat lunak Assurance Technology sebagai asisten administrasi dan kompartemen akun.

Baca Juga: Krisis Energi Melanda Singapura, RI Salah Satu Penyebabnya

Tiong Shi Lin kemudian menyusun rencana untuk mengelabui MSF agar memberikan hibah tunai kepadanya, meskipun ia tahu tidak memenuhi kriteria kelayakan sebagai penerima dana.

Pada 5 Mei 2020 lalu, ia mengajukan aplikasi untuk ‘Bantuan Hibah Covid-19’ secara online, diduga berbohong telah menganggur sejak di PHK perusahaan lamanya.

Kala itu, MSF menolak berkas pengajuannya lantaran tidak memberikan dokumentasi pendukung yang memadai.

Tiong Shi Lin kembali mengajukan aplikasi lain pada hari berikutnya, memberikan tangkapan layar dari serangkaian pesan WhatsApp dengan mantan atasannya untuk menunjukkan ia telah kehilangan pekerjaannya.

Ia juga memberikan pernyataan pada Central Provident Fund (CPF), tetapi sengaja ‘menghilangkan’ bulan Mei 2020, ketika ia mulai bekerja untuk Assurance Technology dan menerima kontribusi CPF.

MSF menyetujui aplikasi itu setelah mengonfirmasi penghentian Tiong Shi Lin dengan mantan atasannya dan mengucurkan 800 dolar Singapura setiap bulan kepadanya selama tiga bulan.

Kementerian secara otomatis menolak aplikasi ketiganya, yang dibuat satu jam setelah yang kedua. Ia telah menyertakan slip gaji dari TVH Singapura untuk Februari 2020, tetapi tidak memuat pernyataan gaji bulanan pada tangkapan layar WhatsApp yang ia berikan sebelumnya.

Beberapa bulan kemudian, Tiong Shi Lin memutuskan untuk memasukkan aplikasi lagi ketika program kedua untuk aplikasi dibuka pada Oktober 2020.

Ia memalsukan surat PHK dari Assurance Technology, yang menyatakan pekerjaannya akan dihentikan pada 14 September 2020.

Untuk melakukan hal itu, ia mengakses folder sumber daya manusia bersama perusahaan dan mengunduh template surat penghentian di laptop yang dikeluarkan perusahaannya.

Ia memberi tanggal pada surat itu 17 Agustus 2020 dan mengubahnya untuk menyatakan dipecat karena perusahaan perlu memotong tenaga kerja. Ia kemudian memalsukan tanda tangan bosnya.

Ketika program aplikasi terbuka, ia mengajukan aplikasi keempat, memberikan foto surat palsu dan beberapa tangkapan layar yang dimaksudkan untuk menunjukkan ia telah melamar pekerjaan lain. Ia juga mencantumkan nama palsu dan nomor kontak sebagai contact person untuk Assurance Technology.

MSF menyetujui permohonan ini dan mencairkan 800 dolar Singapura, masing-masing pada Oktober dan November. Mereka menghentikan pencairan untuk Desember setelah penyelidikan dimulai.

Tiong Shi Lin sendiri telah mengembalikan laptop yang dikeluarkan perusahaannya dalam tas laptopnya kepada seorang rekan untuk diperbaiki pada 3 November 2020. Rekannya itu menemukan surat tersebut dan melaporkannya.

Bos Tiong Shi Lin, direktur sumber daya manusia, kemudian membuat laporan kepada polisi pada 24 November 2020. Ia lantas ditangkap pada hari yang sama.

Saat diinterogasi polisi, ia awalnya mengaku tidak pernah mengajukan permohonan hibah, kemudian mengklaim petugas MSF telah mengajukan aplikasi kedua dan ketiga atas namanya.

Wakil Jaksa Penuntut Umum Joshua Phang menuntut setidaknya delapan bulan penjara, dengan mengatakan Tiong Shi Lin telah dengan sengaja mengeksploitasi pandemi. Selain itu, ia juga menegaskan pelanggarannya mungkin tidak akan ditemukan jika rekannya tidak menemukan surat palsu itu.

Tiong Shi Lin sendiri diklaim bisa dipenjara hingga 10 tahun dan didenda untuk setiap pelanggaran pemalsuan dan kecurangan.

Sumber: https://www.todayonline.com/singapore/jail-woman-who-forged-termination-letter-received-s4000-covid-19-support-grants#mdcrecs_s

Bagikan