Warganet Indonesia Lebih Tertarik Bahas Isu Babi Ngepet dari BRIN

Terkini.id, Jakarta – Berdarnya beberapa informasi terkait Ketua Umum PDI-Perjuangan Megawati Soekarnoputri resmi sebagai Ketua Dewan Pengarah BRIN di Istana Negara pada Rabu 13 Oktober 2021 kemarin.

Sebelumnya, Seorang Pengamat Budaya dan Komunikasi Digital Universitas Indonesia Firman Kurniawan pernah mengungkapkan bahwa warganet Indonesia memiliki dua penyebab lebih asyik bahas kasus isu babi ngepet dari pada Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Hal ini dikatakan berdasarkan hasil analisis Pendiri Drone Emprit and Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi yang menyampaikan netizen lebih tertarik membahas isu ‘babi ngepet’ ketimbang BRIN.

Baca Juga: Megawati Jadi Ketua BRIN, DPP PDI-Perjuangan: Agar Riset dan Inovasi...

Poin tertama dia menilai isu BRIN merupakan pembahasan yang elit dan merupakan lembaga yang tidak populer. Orang dengan tingkat pendidikan yang tinggi sekali pun, belum tentu membahas soal BRIN.

“Terlebih yang mengemuka tentang BRIN soal pelantikan kepala badan yang baru dan diangkatnya Bu Mega sebagai dewan Pembina BRIN,” ujar Firman mengutip dari CNN, Kamis 14 Oktober 2021.

Baca Juga: Megawati Pimpin BRIN, Pakar Hukum Top: Dunia Pasti Akan Tertawa

Menurutnya Firman, tidak banyak isu tentang lembaga BRIN tersimpan sebagai memori publik. Sedangkan  soal Babi Ngepet, telah hidup sebagai mitos dan tersimpan di pikiran masyarakat.

Isu tersebut, kata dia muncul kembali sebagai berita dengan bungkusan cerita yang baru. Hal ini dianggap memanggil publik sebagai bahan bahasan.

“Terbukti selama beberapa waktu babi ngepet jadi trending topik di media sosial,” tuturnya.

Baca Juga: Megawati Pimpin BRIN, Pakar Hukum Top: Dunia Pasti Akan Tertawa

Kedua, kata dia di tengah banyaknya informasi yang diproduksi dan didistribusikan oleh publik, informasi harus mampu bersaing untuk bisa menarik perhatian publik secara luas.

Ia menilai cara mengemas informasi yang sensasional, mistis, kontroversial, penuh drama dan mengandung unsur cerita menjadi strategi untuk menampilkan informasi kepada publik.

Di samping itu ia menilai mengkonsumsi informasi dalam jumlah banyak cenderung mengandalkan proses berpikir publik. Hal inilah yang terjadi saat ini.

Firman menjelaskan bahwa saat ini jumlah durasi yang digunakan oleh mayoritas netizen RI untuk berelasi dengan media digital mencapai 9 jam per hari. Sehingga, wajar jika informasi yang diproses merupakan jenis informasi yang relatif mudah dimengerti, sederhana dan segera mendatangkan kepuasan

“Informasi yang dangkal, memenuhi persyaratan untuk itu,” pungkasnya.

Bagikan