Yahya Waloni dan Doanya yang Tembus ke Langit

Yahya Waloni dan Doanya yang Tembus ke Langit

HZ
Hasbi Zainuddin

Penulis

Terkini – Ustaz Yahya Waloni pernah mengucapkan sesuatu yang membuat bulu kuduk berdiri. Dalam salah satu ceramahnya setahun lalu, ia berkata dengan nada ringan tapi penuh makna: “Jangan-jangan tahun depan nama saya sudah tak ada lagi, sudah kembali ke Rahmatullah.” Ucapan itu muncul saat ia mengenang kepergian Habib Hasan Assegaf, Maret 2024 silam.

Tak disangka, kalimat yang mungkin dianggap sebagian orang sebagai celetukan spontan itu menjadi kenyataan. Yahya Waloni, dai yang dikenal keras dan kontroversial, wafat pada Jumat, 6 Juni 2025, di masjid, sesaat setelah menjadi khatib salat Jumat. Ia meninggal di tempat yang paling ia rindukan: rumah Allah.

Pria 54 tahun ini memang kerap bicara soal kematian—bukan dengan ketakutan, tapi dengan kerinduan. Dalam banyak ceramahnya, Yahya mengaku tak gentar menghadapi ajal.

“Saya tunggu-tunggu. Lama sekali Kau panggil saya mati,” tuturnya dalam sebuah kajian malam. Ia bahkan mengaku bahwa setiap tahajud, doa yang terucap adalah, “Kapan akhirnya aku dikubur ya Allah.”

Ucapan-ucapan seperti itu membuat sang istri, Mutmainnah, sering menegur. “Jangan doa begitu, Pak,” kenangnya. Tapi bagi Yahya Waloni, dunia ini telah begitu menyesakkan. Ia merasa dikelilingi kemunafikan, terutama dari kalangan elite. Dalam ceramahnya, ia pernah menyebut bahwa 80 persen pejabat negeri ini adalah “munafik yang ingkar terhadap agama Allah.”

Baca Juga

Bagi Yahya, dunia bukan lagi tempat yang nyaman. Ia merasa, satu per satu pejuang dakwah berpulang, sementara kezaliman justru tumbuh subur. “Lebih baik saya mati,” katanya dengan nada yang bukan putus asa, tapi bentuk protes spiritual yang sunyi.

Yahya Waloni bukan sosok yang mudah dilabeli. Ia adalah campuran antara ketegasan, kontroversi, dan keyakinan yang membara. Ia pernah masuk penjara karena dinilai menista agama Kristen, tapi keluar dengan lebih keras dan lebih yakin. “Sekali harimau tetap harimau, tidak pernah jadi kucing,” ujarnya suatu kali. Ia tak gentar disebut radikal, bahkan mengakuinya dengan kepala tegak.

Ceramahnya kerap pedas, lugas, tanpa kompromi. Ia menolak sogokan, menolak basa-basi, dan menyebut dirinya tidak akan pernah menjadi “penjilat” atau “pengkhianat umat.” Gaya ceramah semacam itu membuatnya dicintai sekaligus dibenci. Namun satu hal yang sulit dipungkiri: Yahya Waloni tak pernah bermain aman.

Kini, setelah kepergiannya, banyak yang merenung. Ia memang sering dicaci karena gaya bicara dan isi ceramahnya, tapi tak sedikit pula yang merasa kehilangan. Kepergiannya yang tiba-tiba, di tempat ibadah, di hari Jumat, membuat sebagian netizen menyebutnya sebagai husnul khatimah yang membuat iri.

“Tegas, teguh, dan tak pernah takut. Allah lebih sayang pada beliau,” komentar salah satu netizen. Yang lain menulis: “Belum ada ustaz pemberani seperti beliau. Semoga diampuni segala kekhilafannya dan diterima segala amal baiknya.”

Yahya Waloni lahir pada 30 November 1970. Ia bukan hanya seorang pendakwah, tetapi juga seorang mualaf yang dulu dikenal sebagai pendeta dan dosen teologi di Sekolah Tinggi Eben Haezer.

Ia memutuskan memeluk Islam pada Oktober 2006, setelah perjalanan spiritual panjang yang bermula dari diskusi dengan seorang tukang ikan yang… belakangan diketahui tidak pernah dikenal warga sekitar. “Mungkin malaikat dalam wujud manusia,” katanya suatu kali.

Doa yang Dibayar Lunas di Akhir Hayat

Tidak banyak orang yang berani berkata: “Saya rindu kematian.” Tapi Yahya Waloni berkata demikian—berulang-ulang, di depan publik. Dan ketika kematian itu datang, ia menyambutnya dalam posisi mulia: sebagai khatib Jumat, di dalam masjid, di hari penuh berkah. Ia pergi dengan gaya yang persis seperti ceramah-ceramahnya: tiba-tiba, mengejutkan, dan tak bisa diabaikan.

Dalam dunia yang makin penuh kepalsuan, mungkin Yahya Waloni memilih akhir yang paling jujur: kembali kepada Tuhan yang ia seru dalam setiap teriak dan doa-doanya.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.