Yusuf Muhammad: Yang Reunian Masih Sibuk Sama Nasi Bungkus, Sementara Korban yang Diperingati Kini Sudah Jadi Komut

Terkini.id, Jakarta – Pegiat media sosial, Yusuf Muhammad melontarkan sindiran kepada orang-orang reunion yang kini masih sibuk dengan nasi bungkus.

Sementara, kata Yusuf Muhammad, korban yang diperingati kini sudah menjadi Komut atau Komisaris Utama dengan gaji Rp170 juta.

“Yang reunian masih sibuk sama nasi bungkus,” kata Yusuf Muhammad melalui akun Twitter pribadinya pada Kamis, 2 November 2021.

Baca Juga: Ahok Tak Cukup Syarat, Ini 4 Calon yang Bisa Penuhi...

“Sementara korban yang diperingati kini sudah jadi komisaris utama dengan gaji 170 juta,” sambungnya.

Yusuf Muhammad tak menyebutkan spesifik soal pihak reunian yang ia singgung. Namun, ada beberapa netizen yang berasumsi bahwa yang ia maksud adalah Reuni pada 2 Desember 2021 yang rencananya akan dilakukan di Patung Kuda Jakarta.

Baca Juga: Yusuf Muhammad: Ternyata, Diam-Diam Kejaksaan Tinggi DKI Telah Geledah Kantor...

“Tgl. 2 Desember hari BTP,” kata @koen***.

“Dulu demo thn 2016 tujuannya ‘Ahok’. Sekarang 2021 tujuannya ‘Patung Kuda’. Seperti kata pepatah tak ada AHOK.. PATUNG KUDA pun jadi,” kata @MBCNews17.

Akhir-akhir ini memang ramai dibicarakan soal Reuni 212 yang dilaksanakan pada Kamis, 2 Desember 2021.

Baca Juga: Yusuf Muhammad: Ternyata, Diam-Diam Kejaksaan Tinggi DKI Telah Geledah Kantor...

Sebagaimana diketahui, sejarah gerakan 212 ini memang berawal dari kasus penistaan agama oleh Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok pada 2016.

Hal ini berawal dari tersebarnya video pidato Ahok ketika melakukan kunjungan di Kepulauan Seribu, pada 27 September 2016.

Dalam pidatonya, Ahok menyinggung agar masyarakat jangan dibohongi menggunakan Surat Al-Maidah ayat 51.

“Kan bisa saja dalam hati kecil Bapak Ibu, nggak pilih saya karena dibohongi (orang) pakai Surat Al Maidah 51 macam-macam itu. Itu hak Bapak Ibu. Kalau Bapak Ibu merasa nggak bisa pilih karena takut masuk neraka, dibodohi, begitu, oh nggak apa-apa, karena ini panggilan pribadi Bapak Ibu,” katanya, dilansir dari Suara.

Perkataannya itulah yang dinilai sebagai penistaan dan memicu aksi demo besar-besaran untuk membela Islam.

Selanjutnya, Aksi ini pun terus berlanjut beberapa jilid, bahkan hingga tahun ini.

Bagikan