4 Fakta Teknologi 5G China yang Bikin Amerika Ketar-ketir

Terkini.id, Jakarta – Perang dagang Amerika melawan China memasuki babak baru, setelah China melalui perusahaan raksasanya, Huawei, melakukan kerja sama dengan Rusia.

Perusahaan penyedia jaringan terbesar di Rusia, Mobile TeleSystem (MTS) memulai kerja sama dengan Huawei untuk membangun internet 5G.
Kesepakatan tersebut makin makin memperuncing perang dagang antara China melawan AS.

Dikutip dari bussinerinsider.com
Rusia dan China sepakat untuk memperkenalkan teknologi 5G dan meluncurkan jaringan percontohannya di Rusia pada 2019-2020.

Perusahaan Teknologi Rama-ramai Hentikan Kerja Sama Huawei

Amerika Serikat saat ini terus mendorong perusahaan teknologinya untuk memutuskan kerja sama dengan Huawei.

Beberapa perusahaan tersebut, di antaranya Google yang menghentikan lisensi android dan produk lainnya untuk dipasan di ponsel Huawei.

Perusahaan lainnya yang menghentikan lisensinya adalah Intel, Broadcom, Qualcomm, Infineon Tecnhologies (perusahaan produsen chip asal Jerman), dan ARM.

Selain itu, Facebook group juga berhenti bekerja sama diikuti anak perusahaannya, yakni Whatsapp, dan Instagram.

Kekuatan Teknologi 5G China

Mengapa Amerika Serikat bersikeras melawan China dengan menghentikan kerja sama dengan Huawei?

Pakar IT, Hilman Fajrian, mengemukakan bahwa salah satu alasan pentingnya adalah teknologi 5G yang dibangun oleh China.

Menurut dia, Huawei berhasil mengembangkan teknologi 5G yang jauh lebih baik dibandingkan perusahaan-perusahaan teknologi AS seperti AT&T atau Verizon.

“Ibaratnya, 5G China itu seperti DVD dan 5G AS seperti laser disc. AS tertinggal sangat jauh dalam perlombaan 5G,” tulis Hilmah Fajrian yang merupakan Founder Arkademi.com.

Apa saja keunggulan 5G yang membuat Amerika ketar-ketir hingga melawan Amerika dengan keras?

1. Kecepatan 5G

Menurut Hilman, 5G bukan sekadar 4G yang lebih cepat. 5G adalah revolusi dan keajaiban teknologi konektivitas.

“Ia bukan hanya jauh lebih kencang dan mampu membawa data lebih besar dibanding 4G. Namun ia hampir tak punya latensi atau jeda. Tak ada putus di tengah,” katanya.

Latensi merupakan waktu jeda ketika data berjalan. Rata-rata latensi koneksi saat ini adalah 100 milidetik atau 0,1 detik. Dengan, 5G latensinya hanya 1 milidetik atau 0,001 detik. Lebih cepat dibanding waktu yang anda butuhkan untuk berkedip.

“Soal anda bisa mendownload film dari sebelumnya 6 menit di 4G menjadi 3 detik di 5G, itu urusan lain,” tambahnya lagi.

2. Fungsi dan Manfaat 5G

Menurut dia, 5G merupakan satu-satunya teknologi yang memungkinkan dilakukannya interkonektivitas secara real-time tanpa harus khawatir dengan keterlambatan transportasi data.

“Ini adalah teknologi yang dibutuhkan oleh mobil otonom, internet of things (IoT), dan pengoperasian alat jarak jauh. Semua sektor akan terdampak: transportasi (mobil otonom), kesehatan (bedah jarak jauh), konstruksi (operasi alat), hiburan (film dan musik), retail (kecepatan akses layanan), IoT (smart home, smart city), hingga agrikultur,” katanya.

5G juga membuka kemungkinan yang tak terbatas bagi teknologi lain atau layanan yang membutuhkan konektivitas real-time dengan ukuran data yang besar.

3. Ancaman Tenaga Kerja dan Ekonomi Amerika

Selama ini, Amerika Serikat sudah cukup banyak menikmati untung karena berhasil menciptakan 4G. Semua orang di dunia mengakses internet dan menggunakan layanan dari negeri Paman Sam tersebut.

Kini, Amerika Serikat bersikeras untuk menjadi yang pertama lagi dalam hal teknologi 5G.

“Menurut estimasi, dengan 5G, AS akan mendapatkan kenaikan GDP $300 miliar dan menciptakan 3 juta lapangan kerja baru,” katanya.

Akan tetapi, kali ini AS mendapat lawan tanding yang setara atau lebih hebat, yakni China.

Bukannya sukses menciptakan 5G, Amerika malah disalip oleh Huawei dalam mengembangkan teknologi 5G yang jauh lebih baik dibandingkan perusahaan-perusahaan teknologi AS seperti AT&T atau Verizon.

4. Menghentikan Dominasi AS

Menurut Hilman lagi, dengan memenangkan ‘perlomaan 5G’ akan mampu mencipatakan ekosistem internet yang baru, dan menggeser AS sebagai dominator teknologi dunia.

Bagi AS, itu tidak boleh terjadi karena akan mengancam keagungan bangsa mereka di masa depan.

Oleh karena itu, Huawei dijegal. “Ini bukan semata perlombaan teknologi, tapi persaingan antar bangsa,” katanya.

Berita Terkait
Komentar
Terkini
Opini

Saat Jabatan Menteri Tak Lagi Berkilau

PERNAH ada masa, presiden di Indonesia tak pernah berganti. Saat itu, mimpi tertinggi manusia di negeri ini hanya jadi menteri. Kalau tidak ya jadi
Opini

JK Sang Juru Damai

Tanggal 20 Oktober 2019 ini berakhirlah sudah tugas Bapak Jusuf Kalla atau yang lebih dikenal dengan sebutan JK sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia.Sebuah posisi
Opini

Ada Putra Wajo di Garuda Select

DUA hari lalu, seorang teman yang secara sukarela ikut mendukung saya di Pemilu 2019 di Kabupaten Wajo, mengirimkan gambar ke kontak WhatsApp (WA). Ia
Opini

Lobby Lobby

DI luar negeri kini beredar berita tentang Indonesia: elit politik lagi berusaha mengubah konstitusi.Tujuannya: agar tidak ada lagi pilpres secara langsung. Di pemilu yang
Opini

Nyinyir Istri Tentara Itu

SEPEKAN telah berlalu, tapi kisah ironis tentang istri tentara itu - juga tentang tentara itu sendiri - masih juga ramai terhampar di media cetak
Opini

Blue Girl

KINI jadi kenyataan: wanita Iran benar-benar boleh nonton sepak bola. Hadir langsung di stadion.Itu terjadi Selasa minggu lalu. Saat tim nasional Iran menjadi tuan
Opini

Menghargai Bangsa Sendiri

BEBERAPA waktu lalu saya pernah menulis sebuah artikel dengan judul imagining Indonesia. Hal demikian saya tuliskan karena sebagai anak bangsa yang sudah sangat lama
Opini

Wiranto Diserang, Ninoy Diculik, Kita Diteror

DI Menes, Pandenglang, Banten, Menkopolhukam Wiranto di serang seorang tidak dikenal. Begitu turun dari mobil, Wiranto disambut Kapolsek disana. Tetiba, seorang lelaki membawa gunting