Makassar Terkini
Masuk

Ahli Waris Pemilik Lahan Tutup Pesantren Pakai Seng, Banser Turun Berjaga

Terkini.id, Bandung – Peristiwa penyegelan lembaga pendidikan yakni pesantren terjadi di Kabupaten Bandung.

Pondok Pesantren Nurul A’in, Kampung Curug Dogdog, Desa Sukamenak, Kecamatan Margahayu, Kabupaten Bandung, ditutupi seng oleh sekelompok orang yang mengklaim ahli warid pemilik lahan.

Atas peristiwa tersebut, belasan anggota Banser pun turun dan berjaga di Pondok Pesantren Nurul A’in, Kampung Curug Dogdog, Desa Sukamenak, Kecamatan Margahayu, Kabupaten Bandung.

Kehadiran mereka tersebut pasca penutupan pesantren secara paksa menggunakan seng oleh ahli waris.

Sebelumnya, pada Minggu 11 oktober 2020, sekitar pukul 09.00 WIB, ahli waris bersama sejumlah orang mendatangi ponpes yang sudah berjalan 15 tahun tersebut. Mereka menutupi gedung milik pengurus pesantren dan asrama santriwati.

Melansir dari detikcom, pada pukul 20.30 WIB belasan anggota Banser kemudian mendatangi pesantren tersebut.

“Kami mendapatkan kabar bahwa ada penutupan pesantren ini. Kebetulan saya dulu santri di sini,” ujar Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Margahayu Ahmad Ridwan, Minggu malam.

Ridwan mengatakan, ia meminta kepada anggotanya untuk turun ke pesantren. Mereka ditugaskan untuk menjaga keamanan pesantren pasca penutupan paksa.

“Saya menginstruksikan untuk menjaga dan mengawal kondisi di sini. Karena kondisinya genting sampai-sampai menutup pesantren, menggagu aktifitas pengajian,” ujarnya.

“Ada kesadaran bersama untuk menjaga pesantren ini,” tambahnya.

Selain sejumlah anggota Banser, beberapa alumni Ponpes Nurul A’in dan warga pun turut berdatangan. Mereka langsung mendatangi pesantren usai mendapatkan informasi penutupan.

“Saya dapat informasi penutupan langsung ke sini. Ya saya miris ngeliat kondisi pesantren sudah ditutup kaya gini,” ujar Asep Syahrul Muharom yang sempat mondok empat tahun di Ponpes Nurul A’in.

Di pihak lain, salah satu pengurus Ponpes Nurul A’in Ustad Ahmad mengatakan, pihaknya diminta berkemas sampai besok oleh ahli waris tersebut. Namun, pihaknya tidak begitu menggubris apa yang diinginkan oleh ahli waris tersebut.

“Dia (ahli waris) ngasih waktu sampai besok harus beres (berkemas). Cuman kami tidak menghiraukan. Kita menunggu hasil mediasi oleh pihak desa,” ujar Ahmad.

“Kami tidak akan langsung membongkar seng tersebut. Mereka yang memasang seng-nya maka mereka yang harus melepas,” tambahnya.