Aktif Kritik Pemerintah, Sosiolog Arief Munandar Sebelum Wafat: Mungkin Rezim Bisa Tidur Nyenyak

Aktif Kritik Pemerintah, Sosiolog Arief Munandar Sebelum Wafat: Mungkin Rezim Bisa Tidur Nyenyak

HZ
Hasbi Zainuddin

Penulis

Terkini.id, Jakarta – Sosiolog yang dikenal aktif menyampaikan Kritik ke pemerintah, Arief Munandar Meninggal dunia usai berjuang melawan covid-19. Dia sempat berkomentar, bahwa keadaannya yang sakit mungkin membuat rezim bisa tidur nyenyak.

Arief Munandar merupakan seorang jurnalis sekaligus sosiolog, yang meninggal dunia usai berjuang melawan Covid-19.

Kabar duka kepergian Arief Munandar ini salah satunya disampaikn oleh Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mardani Ali Sera, melalui cuitan di akun Twitter miliknya @MardaniAliSera.

“Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rojuun..Telah berpulang ke rahmatullah Saudara, Teman, Sahabat kita Dr. Arief Munandar,” ujar Mardani Ali Sera, dua hari lalu.

“Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya dan menerima iman, islam dan ibadahnya, serta keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran dan keikhlasan,” katanya melanjutkan.

Arief Munandar meninggal dunia pada Selasa 13 Juli 2021 usai berjuang melawan Covid-19.

Sebelumnya, sosok yang akrab disapa Bang Arief ini sempat memaparkan mimpinya yang selalu ia pegang semasa hidup.

Dalam video di channel-nya, Arief sempat menunjukkan kondisinya yang sedang sakit dengan selang pernafasan yang terpasang di hidung.

“Mungkin selama beberapa hari ini rezim akan sedikit bisa tidur nyenyak, mereka berkurang sparing partnernya. Karena kanal Bang Arief agak slow down. 

Saya cuma pengen bilang sama mereka, Insya Allah saya akan berjuang sekuat tenaga supaya covid segera berakhir, saya bisa sembuh dan setelah itu ganggu mereka lagi supaya tidak seenaknya bisa gangguin rakyat,” tulis Arief lewat tayangan video tersebut.

Aktif Mengkritik Pemerintah

Semasa hidup, Arief cukup aktif menyampaikan kritik ke pemerintah di bawah rezim Joko Widodo.

Salah satu yang pernah dia soroti adalah SKB tiga menteri terkait seragam sekolah usai peristiwa intoleran. Menurut dia, itu terlalu lebay dan pemerintah terlalu ribet menangani masalah toleransi di negeri ini.

Menurut Arief Munandar, sejak Jokowi menjadi presiden, toleransi di Indonesia menjadi sesuatu yang rumit.

“Gua gak tau kenapa ya semenjak Jokowi jadi presiden, beberapa tahun terakhir kayaknya yang namanya toleransi ini jadi sesuatu yang ribet,” ucapnya.

Tak hanya itu, toleransi pun menurut Arief Munandar menjadi sesuatu yang terlalu diributkan secara berlebihan di Tanah Air.

“Terlalu diomongin, ada konsep baru lah, lalu ada kelompok-kelompok yang dianggap radikal, dan dianggap intoleran segala macam,” tuturnya.

Padahal dahulu sebelum Jokowi memimpin, kata Arief, kasus-kasus semacam itu tidak pernah ada.

“Jadi ada aktor intelektualnya, ada dalang di balik masalah-masalah intoleransi ini yang kemudian sengaja menciptakan berbagai gesekan tadi karena punya kepentingan-kepentingan politik tertentu, who knows,” ungkapnya.

“Karena dulunya gak ada yang begini-begini,” sambung Arief Munandar.

Lebih lanjut, dia mencontohkan salah satu kasus yang membuktikan dugaannya, yakni soal SKB 3 Menteri.

“Ini berkaitan dengan misalnya SKB 3 Menteri, ada Mendikbud, Menag, dan Mendagri yang menyangkut seragam sekolah,” ucapnya.

“Lu bayangin ya, trigger-nya (pemicunya) cuman ada satu kesalahpahaman di salah satu SMK di Padang di mana ada orang tua siswa yang beragama nonmuslim itu keberatan karena putrinya diwajibkan untuk mengenakan kerudung,” sambungnya.

Padahal itu adalah satu aturan, kata Arief Munandar, yang sebenarnya sudah lama ada dan seharusnya bisa diselesaikan dengan sangat mudah.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.