Amien Rais-Hehamahua Disarankan Keluar dari RI, Seword: Seperti Nabi Musa Membawa Kaumnya Pergi

Terkini.id, Jakarta – Abdullah Hehamahua, Ketua Tim Pengawal Peristiwa Pembunuhan (TP3) Laskar FPI, Abdullah Hehamahua mengibaratkan pertemuan dirinya dengan Presiden Jokowi di Istana seperti pertemuan Nabi Musa dengan Firaun.

Dia mengungkapkan, awalnya, pihaknya mengirimkan surat ke Istana Presiden, lalu satu bulan kemudian dibalas oleh Menko Polhukam Mahfud MD.

Surat itu disusul telepon dari Istana kepada Sekretaris TP3.

Baca Juga: Singgung Jihad, Amien Rais: Islamofobia Rezim Jokowi Luar Biasa Ganas

“Bahwa Istana siap menerima besok datang jam 09.10 orang harus tes antigen dulu,” ungkap Abdulla Hehamahua dalam video yang diunggah akun Ustadz Demokrasi, Selasa 13 April 2021.

Abdullah mengaku, TP3 sepakat memaknai pertemuan itu seperti pertemuan antara Nabi Musa dengan Firaun.

Baca Juga: Bahas Palestina-Israel, Amien Rais Ingatkan: di Rezim Jokowi, Ada Unsur...

“Kita (TP3) sepakat, kita datang sepeti Musa datang ke Firaun,” ucapnya.

Akan tetapi, Abdullah buru-buru menjelaskan bahwa bukan berarti pihaknya menganggap bahwa Jokowi adalah Firaun.

“Tapi kita menempatkan posisi dia adalah penguasa seperti saat Firaun menjadi penguasa. 

Baca Juga: Seword Tuding 75 Pegawai KPK Kadrun: Pantas Anies Didiamkan

Lalu kami seperti Musa yang memperjuangkan kepentingan rakyat dan menegakkan kebenaran,” tutur dia lagi.

Mendapati undangan tersebut, pihaknya pun sudah mengantisipasi agar nantinya tidak ada salah persepsi atau diplintir pihak lain.

Karena itu, Abdullah kemudian sepakati bahwa yang akan disampaikan kepada Presiden Jokowi dibuat secara tertulis yang dituangkan satu halaman kertas.

“Pak Amin (Rais) cuma sebutkan tentang dua hal dalam Alquran, tentang membunuh orang mukmin tanpa hak sama dengan bunuh semua manusia dan hukumannya adalah neraka. Itu saja,” jelasnya.

Sedangkan Marwan Batubara, menyampaikan dua hal.
“Pertama, persoalan ini harus terbuka dan dilakukan di pengadilan HAM, bukan pengadilan biasa. Rata-rata (membacakan) tiga menit. Singkat,” sambungnya.

Pemaparan itu lantas langsung ditanggapi langsung oleh Presiden Jokowi.

“Kemudian Jokowi sambil angkat tangan begini kasih lihat itu kotak. 

Itu CD dari Komnas HAM, dan di mejanya ada laporan (Komnas HAM),” ujarnya.

Selanjutnya, kata Abdullah, Jokowi juga memastikan bahwa pemerintah akan melaksanakan penanganan kasus secara transparan, profesional terbuka.

“Kedua, Jokowi mengungkapkan kalau TP3 punya data (bukti) dipersilahkan. 

Lalu ditambah (Menkopolhukam) Mahfud MD bahwa Komnas HAM sudah menyampaikan empat rekomendasi, salah satunya bukan pelanggaran HAM berat,” tuturnya dikutip dari pojoksatuid.

Sejumlah buzzer di media sosial pun menyampaikan kritik atas ucapan Abdullah Hehamahua tersebut.

Salah satunya seword, yang selalu aktif melawan kelompok-kelompok yang frontal terhadap pemerintahan Jokowi.

Dalam postingannya, Seword juga mengulas video yang menunjukkan Amin Rais terlihat angkuh saat mendatangi Istana negara. “Jokowi berusaha menyalami, tapi beliau menengadah ke atas dan lewat begitu saja seolah-olah tidak menganggap Jokowi ada. Melihat sikap Amin Rais ini, justru penulis merasa dialah yang sebenarnya memiliki sifat Firaun,” tulis Seword.

Menurutnya, hanya orang tolol yang menyambung-nyambungkan cerita yang jauh berbeda. Musa merupakan pemimpin bangsa Israel yang keluar dari penjajahan di tanah Mesir yang dipimpin Firaun.

“Sedangkan Jokowi adalah Presiden dari negara merdeka dan berdaulat, bangsa Indonesia sudah memiliki tanah air sendiri, tidak perlu keluar dari suatu negara untuk mencapai suatu tanah yang dijanjikan,” terangnya.

“Tapi baiklah kalau Amin Rais dan Hehamahua sang pengkhianat negara mau menyamakan diri dengan Musa. Artinya mereka harus berjuang membawa kaumnya, yang kemungkinan mayoritas adalah para kadrun-kadrun untuk keluar dari Indonesia dan menuju ke tanah perjanjian,” tulisnya lagi.

“Berarti mulai saat ini seharusnya Amin Rais dan Hehamahua sang pengkhianat negara mulai bingkis-bingkis dan persiapkan bekal untuk keluar dari Indonesia menuju tanah yang dijanjikan. Dimanakah tanah itu? meneketehe,” jelasnya.

Bagikan