“Ini tidak bisa dibiarkan. Saya akan membawa masalah ini kepada Kapolda baru dan Kapolri. Kasihan masyarakat, mereka harus meninggalkan kampung halamannya karena perusahaan yang belum jelas izin AMDAL-nya,” tegas Frederik.
Rencana Pertemuan dengan Petinggi Polri
“Selesai pelantikan pada 1 Oktober, saya akan bertemu Kapolri, Propam, dan Kapolda Sulsel. Saya yakin jika petinggi Polri mendengar kejadian sebenarnya, pasti mereka akan kaget,” tambahnya.
Frederik menyoroti situasi tragis yang dihadapi masyarakat, yang selama puluhan bahkan ratusan tahun harus eksodus karena kehilangan desa mereka. “Aneh kan, situasi seperti ini terjadi?” ungkapnya dengan nada prihatin.
Banjir dan Longsor Akibat Pengelolaan yang Buruk
- Wali Kota Munafri Ibaratkan Makassar Taman Bunga: Saya Akan Bersihkan Ilalang yang Menutupi Keindahan
- Kota Makassar Kian Memikat Investor, Nilai Investasi Awal 2026 Capai Rp2,7 Triliun
- Oknum Guru Di Jeneponto Diduga Aniaya Siswa, Korban Demam Dan Merasakan Sakit Jika Menelan
- 10 Penggerak HAM Sulsel dan Wilker Sultra Resmi Teken Kontrak, Kakanwil Tekankan Perubahan Nyata di Masyarakat
- Viral Video Diduga Cekcok Orang Tua Siswa Dengan Oknum Guru Di SDN 14 Tamalatea Jeneponto
Frederik juga menyoroti dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh operasi PT Masmindo. Ia menyebutkan adanya banjir dan longsor yang diduga sebagai akibat dari pengelolaan tambang yang tidak sesuai prosedur.
“Jika AMDAL mereka benar dan operasi dilakukan sesuai prosedur, tentu tidak akan ada banjir dan longsor yang justru menambah penderitaan masyarakat,” pungkasnya.
Frederik Kalalembang berjanji akan memperjuangkan nasib masyarakat Rante Balla yang terdampak oleh operasi PT Masmindo. Ia berharap pihak kepolisian dan pemerintah segera mengambil tindakan untuk menyelesaikan masalah ini sebelum semakin merugikan warga dan lingkungan sekitar.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
