Angka Stunting di Maros Terus Turun, Tersisa 2.892 Kasus pada 2021

Terkini.id, Makassar – Pemerintah Kabupaten Maros terus berupaya menurunkan angka stunting atau kasus kekurangan gizi yang mengganggu pertumbuhan pada anak.

Kepala Dinas Kabupaten Maros dr. H Muhammad Yunus, S,Ked., M.Kes, mengungkapkan, angka stunting di Kabupaten Maros terus mengalami penurunan seiring dengan berbagai upaya intervensi yang dilakukan pemerintah.

Hal itu disampaikan Kadis Kesehatan Maros dalam Deseminasi Hasil Pengukuran
Tingkat Kabupaten Maros Tahun 2021 terkait stunting yang berlangsung di Hotel Dalton Makassar, 15 Desember 2021.

Baca Juga: Bank Sulselbar Berikan Bantuan Ratusan Juta di Puncak HUT ke-62...

Dalam diseminasi tersebut, Kadis Kesehatan menyampaikan bahwa Permasalahan stunting pada usia dini terutama pada periode 1.000 HPK, akan berdampak pada kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).

Stunting, kata dia, menyebabkan organ tubuh tidak tumbuh dan berkembang secara optimal.

Baca Juga: KALLA-LBH Makassar Gelar Pelatihan Paralegal Desa di Kabupaten Maros

Upaya penurunan stunting pun dilakukan melalui dua intervensi, yaitu intervensi gizi spesifik untuk mengatasi penyebab langsung dan intervensi gizi sensitif untuk mengatasi penyebab tidak langsung.

Selain mengatasi penyebab langsung dan tidak langsung, diperlukan prasyarat pendukung yang mencakup komitmen politik dan kebijakan untuk pelaksanaan, keterlibatan pemerintah dan lintas sektor, serta kapasitas untuk melaksanakan.

Dia pun menjelaskan aksi Konvergensi Penurunan Stunting yaitu sebuah upaya dalam mengentaskan masalah stunting secara konvergen.

Baca Juga: KALLA-LBH Makassar Gelar Pelatihan Paralegal Desa di Kabupaten Maros

“Konvergensi percepatan pencegahan stunting adalah intervensi yang dilakukan secara terkoordinir, terpadu, dan bersama-sama menyasar kelompok sasaran prioritas yang tinggal di desa untuk mencegah stunting,” jelas dia.

Penyelenggaraan intervensi, baik gizi spesifik maupun gizi sensitif, secara konvergen dilakukan dengan mengintegrasikan dan menyelaraskan berbagai sumber daya untuk mencapai tujuan pencegahan stunting. Salah satu aksi dari konvergensi stunting adalah aksi 7 yaitu pengukuran dan publikasi stunting.

“Pengukuran dan publikasi stunting adalah upaya pemerintah kabupaten/kota untuk memperoleh data prevalensi stunting terkini pada skala layanan puskesmas, kecamatan, dan desa,” jelas dia dalam sambutannya.

Hasil pengukuran tinggi badan anak bawah lima tahun serta publikasi angka stunting digunakan untuk memperkuat komitmen pemerintah daerah dan masyarakat dalam gerakan pencegahan dan penurunan stunting.

Tata cara pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak balita tetap berpedoman pada regulasi Kementerian Kesehatan atau kebijakan lainnya yang berlaku.

Penurunan Angka Stunting di Maros

“Berdasarkan Data Tahun 2019 terdapat sebanyak 4.105 kasus stunting atau 22,17% stunting terjadi di Kab. Maros. Selanjutnya terjadi penurunan pada tahun 2020 yaitu sebanyak 3.812 kasus stunting atau sekitar 13,04% dan pada tahun 2021 menurun kembali menjadi 2.892 kasus atau 9,47 %,” paparnya.

Data tersebut diperoleh berdasarkan hasil pengukuran antropometri pada balita yang selanjutnya diinput kedalam aplikasi e-PPGBM. Pengukuran prevalensi stunting di tingkat desa, kecamatan dan kabupaten  merupakan hasil pengukuran yang dilakukan secara berkala yang dilaporkan secara berjenjang mulai dari posyandu ke puskesmas dan  Dinas Kesehatan Kabupaten Maros yang selanjutnya dijadikan sebagai dasar untuk penyusunan perencanaan dan pengambilan keputusan untuk intervensi stunting.

Bagikan