Masih Anti Cina? Din Syamsuddin: Islam Sejalan Dengan Ajaran Tionghoa!

Terkini.id, JakartaDin Syamsuddin sebut konsep islam sejalan dengan ajaran Tionghoa, konsep yang dimaksud adalah islam Wasathiyah.

Hal ini menunjukkan bahwa kedua ajaran keyakinan itu punya titik temu yang mampu mempersatukan keragaman agama.

Hal itu dijelaskan oleh Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin dalam forum yang bertajuk Media Dialog dalam rangka Perayaan Idul Fitri 1443 H. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Chengho Multicultural and Education Trust di Kuala Lumpur, 1 Juni 2022.

Baca Juga: Din Syamsuddin: Kita Kehilangan Kepercayaan kepada MK

Din Syamsuddin mengatakan konsep Tiong Hua atau yang kemudian disebut Tionghua dari peradaban China beririsan dengan konsep Islam Wasathiyah.

Din yang juga bertindak sebagai Ketua World Fulcrum of Wasathiyat Islam (Poros Dunia Wasathiyat Islam) ini menerangkan bahwa wasathiyah adalah watak ajaran Islam dan umat Islam dijadikan Allah SWT sebagai Ummatan Wasathan (Umat Jalan Tengah).

Baca Juga: Din Syamsuddin: Penegakan Hukum Kini Tidak Luput dari Mafia!

“Wasathiyah menolak segala bentuk ekstrimisme yang menampilkan perilaku melampaui batas,” ujar Din Syamsuddin menjelaskan.

“Pada saat yang sama juga menentang segala bentuk egosentrisme baik keagamaan, kebangsaan, dan pengelompokan sosial-budaya serta politik,”  ujarnya dikutip dari Poskota, pada Kamis, 2 Juni 2022.

Menurut Din Syamsuddin, ada tujuh kriteria Wasathiyat Islam, yaitu i’tidal (berlaku adil dan menegakkan keadilan), tawazun (keseimbangan), tasamuh (toleransi), syura (bermusyawarah), ishlah (melakukan perbaikan dan perdamaian), qudwah (melakukan prakarsa perbaikan), dan muwathanah (kewargaan yakni menerima dan membangun negara).

Baca Juga: Din Syamsuddin: Penegakan Hukum Kini Tidak Luput dari Mafia!

“Terhadap Falsafah Tiong Hua yang dijelaskan sebagai jalan tengah untuk kemakmuran, falsafah itu beririsan dan sejalan dengan Wasathiyat Islam (Wawasan Jalan Tengah Islam). Maka, kedua pandangan dunia tersebut dapat diarusutamakan sebagai dasar solusi bagi adanya peradaban baru yg damai, sejahtera, adil, makmur, dan beradab,” tuturnya.

Sementara, menurut Tan Sri Lee Kim Yew, Tiong Hua (di Indonesia disebut Tionghoa) adalah sebuah falsafah, bukan nama kaum atau golongan.

Falsafah ini terdiri dari dua kata yakni Tiong yang berarti jalan tengah, dan Hua yang mengandung arti kerja sama dan kemakmuran. Secara ringkas, Tiong Hua berarti jalan tengah untuk kemakmuran bersama.

Sebagai falsafah, menurut Lee Kim Yew, seorang pengusaha dan pemerhati masalah keagamaan dan peradaban, Tiong Hua berasal dari Ajaran Konghucu.

Bagikan