APINDO: Instrumen Global Pekerja Platform Harus Adaptif, Realistis, dan Mendukung UMKM Serta Ekonomi Digital Nasional

APINDO: Instrumen Global Pekerja Platform Harus Adaptif, Realistis, dan Mendukung UMKM Serta Ekonomi Digital Nasional

EP
Echa Panrita Lopi

Penulis

Melihat dari Kacamata Indonesia

Dalam sidang plenary ILC ke 113, Bob Azam delegasi Kelompok Pengusaha Indonesia dan Ketua Bidang Ketenagakerjaan APINDO menyampaikan bahwa kondisi global saat ini masih menantang, mulai dari ketidakpastian perdagangan hingga tekanan nilai tukar dan naiknya biaya produksi dalam negeri.

Hal ini berdampak pada sektor padat karya yang terpaksa mengurangi tenaga kerja.

Meski demikian, ekonomi Indonesia tetap tangguh dengan pertumbuhan 4,874 di kuartal pertama 2024. Namun tantangan ketenagakerjaan masih besar: 7,47 juta pengangguran, 11,56

juta setengah menganggur, dan tingginya proporsi pekerja informal. Menurut BPS, tingkat pengangguran terbuka mencapai 4,914.

Baca Juga

Pemerintahan Presiden Prabowo menjadikan perluasan lapangan kerja sebagai prioritas, menargetkan pertumbuhan 8X dan penciptaan 19 juta pekerjaan.

Dunia usaha dan pekerja perlu dilibatkan sebagai mitra strategis untuk memastikan akses kerja, termasuk melalui potensi pertumbuhan ekonomi digital yang diproyeksikan tumbuh dari US$82 miliar (2023) menjadi US$360 miliar (2030)! dengan Indonesia menyumbang sepertiga dari total ekonomi digital ASEAN.

“Prinsip decent work di platform harus dirancang hati hati agar tidak menghambat fleksibilitas dan inovasi dua elemen kunci penciptaan lapangan kerja di era digital.

Dunia usaha berharap ILO menghasilkan instrumen yang melindungi tenaga kerja tanpa memaksakan model kerja konvensional,” tutup Bob.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.