Terkini.id, Makasaar – Dalam menjalankan amanah Undang-Undang Dasar yakni mencerdaskan kehidupan bangsa, HMJ Pendidikan Sejarah UNM dan Organisasi Perpustakaan Pendidikan Sejarah UNM mengadakan diskusi online.
Diskusi online ini terselenggara selama dua hari, yakni Minggu hingga Senin, 3-4 Mei 2020 via live instagram @Pend.Sejarah_FISUNM.
Dalam diskusi online tersebut mengangkat tema Jejak Pendidikan di Sulawesi Selatan dengan narasumber Kepala Laboratorium Sejarah dan Budaya Departemen Ilmu Sejarah UNHAS, Dr. Suriadi Mappangara, M.Hum dan moderator Aslinda (Staf Bidang III HMJ. Pend. Sejarah UNM).
Dalam pemaparan materinya, Suriadi mengemukakan bahwa pendidikan di Sulawesi Selatan telah ada sejak zaman kerajaan, di mana para raja dan bangsawan kerajaan dilatih ilmu pemerintahan, ilmu sosial dalam lingkungan istana dan melahirkan berbagai cerdikiawan, salah satu yang paling terkenal adalah Karaeng Pattingngalloang.
“Pendidikan juga menjadi alat ‘perang’ dalam memertahankan kemerdekaan Indonesia di Sulawesi Selatan, seperti pendirian SMA Nasional oleh Gubernur Sulawesi Sam Ratulangi,” terangnya.
- Pengabdian Kepada Masyarakat: UNM Sukses Melaksanakan Pelatihan Budidaya Tanaman Secara Kultur Jaringan di SMKN 3 Takalar
- Buku Bahasa Makassar Karya Prof Kembong Guru Besar FBS UNM, Resmi Diterbitkan Yudhistira
- 127 Pimpinan Prodi UNM Ikuti Workshop Pengembangan Pengukuran CPL
- Menuju Kampus Aman dan Inklusif, UNM Sosialisasikan Seleksi Terbuka Satgas PPKPT
- 3.830 Siswa Lulus SNBP 2026 di Universitas Negeri Makassar
Adapun pelaksanaan diskusi online pada 4 Mei 2020 dilaksanakan oleh Organisasi Perpustakaan Pendidikan Sejarah UNM via live instagram @history_library.
Diskusi online tersebut mengangkat tema Sejarah Wabah dan Penangannya di Indonesia. Tampil sebagai pemateri adalah Firdaus Hadi Santosa, S.Pd., M.Pd (dosen Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Jakarta) dan Yanuar Al-Fiqri, S.Pd., M.Pd (dosen Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Riau). Diskusi ini dimoderatori oleh Ira Safira.
Dalam pemaparannya, Firdaus mengemukakan bahwa wabah yang paling mematikan yang pernah menerjang Nusantara pada masa kolonial (Hindia-Belanda) adalah cacar, pes, dan kolera.
“Wabah ini memangsa korban lebih dari 125.000 jiwa di Pulau Jawa, bahkan karena wabah ini Kota Malang “dilockdown” oleh pemerintah kolonial Belanda,” ujar Firdaus.
Adapun Yanuar lebih mengulas mengenai penanganan wabah ketika Indonesia merdeka, salah satu ulasannya mengemukakan bahwa di tahun 1950-an Indonesia kala itu menghadapi wabah malaria.
“Soekarno membentuk semacam tim gugus tugas dalam menangangi tersebut hingga tanggal 12 November 1964 pemerintah kala itu mengumumkan bahwa wabah malaria dapat ditanggulangi dan dikendalikan. Olehnya itu setiap tanggal 12 November diperingati sebagai Hari Kesehatan Nasional,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Prodi Pendidikan Sejarah, Dr. Bahri, S.Pd., M.Pd menyampaikan apresiasi terhadap HMJ Pendidikan Sejarah dan Organisasi Perpustakaan Pendidikan Sejarah UNM yang masih merawat budaya intelektual di tengah pandemi Covid-19.
Citizen Reporter: Ilyas Ibrahim
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
