Di Balik Mundurnya CEO Indosat Ooredoo: Kerugian Perseroan Rp 2,4 T hingga Harga Saham Turun

Chris Kanter
Chris Kanter

Terkini.id, Jakarta – Chris Kanter, cuma enam bulan menjabat sebagai chief executive officer (CEO) PT Indosat Ooredoo Tbk (ISAT).

Chris Kanter mengundurkan diri sebagai orang nomor satu di operator seluler terbesar kedua di tanah air itu, dan kembeli ke posisi semula, yakni komisaris.

Kabar mundurnya Chris Kanter cenderung tiba-tiba, karena dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang digelar pada Kamis 2 Mei 2019, perseroan tidak membahas pergantian posisi Direktur Utama atau CEO.

Meski begitu, Chris Kanter memang direncanakan menjabat CEO dalam waktu yang tidak lama, alias cuma pejabat sementara di masa transisi.

Nah, meski belum diketahui alasan pasti mundurnya Chris Kanter, ada beberapa fakta yang mengiringinya:

1. Baru 6 Bulan Menjabat

Chris diangkat pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) 17 Oktober 2018 lalu.

Sebelum menjadi Dirut Indosat, pria kelahiran Manado tersebut punya segudang pengalaman di berbagai bidang.

Dilansir dar detikcom, Chris merupakan Chairman dan pendiri Sigma Sembada Group, kontraktor alat berat terkemuka yang bergerak di bidang transportasi dan logistik.

2. Kembali Jadi Komisaris

Informasi pengunduran diri Chris dibenarkan oleh Chief Business Officer Indosat Intan Abdams Katoppo. “Iya. Dia kembali menjadi Komisaris,” ujarnya seperti dilansir dari CNBC.

3. Update Status Sambut Ramadan

Pada Jumat lalu, Chris sempat menyampaikan ucapan Ramadan melalui akun media sosialnya, yakni Linkedin.

Netizen, Iskandar Zulkarnaen, menyebutkan, mengaku kaget karena saat postingan status tersebut, dia ikut berkomentar.

4. Tidak Dibahas di RUPST

Pada Kamis 2 Mei lalu, beberapa jam sebelum dia mundur, Indosat menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada Kamis 2 Mei 2019.

Dalam RUPS tersebut, perseroan tidak membahas pergantian posisi Direktur Utama atau CEO.

5. Kerugian Rp 2,4 Triliun

Chris dinilai sudah menjalankan kepemimpinan dengan baik di Indosat Ooredoo.

Meski dalam setahun terakhir, kinerja perusahaan merosot. Laporan keuangan 2018 menunjukkan, perusahaan tersebut membukukan rugi bersih Rp 2,4 triliun.

Kinerja merugi tersebut membalikkan keadaan karena pada 2017 masih mencatatkan laba Rp 1,13 triliun.

Kinerja mengecewakan Indosat disebabkan anjloknya pendapatan sebesar 22,68% atau Rp 6,6 triliun. Pendapatan Indosat pada 2018 tercatat hanya Rp 23,14 triliun, sementara setahun sebelumnya tercatat Rp 29,93 triliun.

Bukan cuma soal kinerja, konsolidasi emiten telekomunikasi juga menjadi tantangan tersendiri bagi Indosat ke depan mengingat pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika juga mendorong merger akuisisi sektor telco. Jumah operator, kata Menteri Kominfo Rudiantara, sudah terlalu banyak.

6. Belanja Modal Rp 10 Triliun

Dilansir CNBC, Indosat mencatatkan pengeluaran belanja modal yang besar.

Menurut catatan fitch, sepanjang 2019-2021, belanja modal atau capital expenditure (capex) Indosat Ooredoo mencapai hingga Rp 10 triliun.

Jumlahnya naik dari sebelumnya Rp 6 triliun di tahun 2018.

7. Harga Saham Menurun

Dari sisi pasar saham, perusahaan berkode emiten ISAT tersebut juga mencatatkan kinerja saham yang melemah.

Pada 3 Mei 2019, saham ISAT ditutup dengan harga Rp2.450 per lembar saham, atau mengalami penurunan hingga 2,7 persen dibanding 4 Mei 2019 sebesar Rp2.520 per lembar saham.

Berita Terkait
Komentar
Terkini