Banjir Rob, Suara Warga Kepulauan di Makassar Tak Terdengar

Banjir Rob, Suara Warga Kepulauan di Makassar Tak Terdengar

K
R
Kamsah
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, Makassar – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar mencatat bencana banjir merendam 6 kecamatan, antara lain, Tamalanrea, Biringkanayya, Panakkukang, Tamalate, dan Manggala, dan Rappocini.

Hanya saja, BPBD dinilai luput mendata Kecamatan Kepulauan Sangkarrang, dan Ujung Pandang, (Pulau Lae-lae) yang juga ikut terdampak.

Pemerintah Kota Makassar hanya berfokus pada daerah perkotaan ihwal bencana banjir. Suara warga di kepulauan tak terdengar.

Padahal, masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di Kota Makassar menjadi kelompok paling rentan akibat banjir rob, hujan lebat, dan angin kencang.

Sekretaris Komisi C Bidang Pembangunan DPRD Kota Makassar Fasruddin Rusli meminta pemerintah kota tak hanya memikirkan bencana di daratan, tapi juga berfokus pada wilayah kepulauan.

Baca Juga

Ia mengatakan Pulau Lae-lae sudah menjadi langganan banjir tiap musim hujan. Begitu juga ketika datang angin muson timur dan barat. 

“Warga Lae-lae terimbas air pasang karena banyak tanggul yang sudah rusak berat. Air gampang masuk karena tidak ada penangkis,” kata Fasruddin, Rabu, 8 Desember 2021.

Akibatnya, pemukiman rumah warga terendam banjir. Warga, kata dia, terus berada dalam kecemasan lantaran belum ada bantuan dari pemerintah kota.

“Kemarin malam mereka tidak tidur karena was-was. Kalau ini tak diantisipasi akan lebih parah lagi abrasi yang terjadi di sana,” sebutnya.

Sebab itu, ia meminta pemerintah kota, khususnya Dinas PU Makassar untuk berkunjung ke Pulau Lae-lae. 

“Kami minta pemerintah kota melihat lokasi dan membuatkan tanggul 80 meter di bagian barat, khusus di RW 3,” ucapnya.

Ketua RW 3 Kepualauan Lae-lae, Yusuf mengatakan wilayahnya merupakan lokasi yang paling terdampak. Pasalnya, air sudah merendam rumah warga. 

“Kami sangat mengharapkan bapak wali kota mungkin bisa dibuatkan tanggul pelaing tidak sepanjang 80 meter, tingginya bisa sampai 80 cm dan lebar 60 cm,” katanya.

Terlebih abrasi yang terjadi, kata dia, sudah berlangsung lama namun tak kunjung mendapat bantuan.

Masita, salah satu penduduk di Kepulauan Kodingareng harus mengevakuasi diri beserta dua anaknya. Pasalnya, ombak menghantam pintu belakang rumahnya dan menyebabkan air menggenangi rumahnya. 

“Dua hari sebelumnya di belakang rumah air sudah naik. Tambah lagi hujan dua hari belakangan ini banjir’mi rumahku. Baru terjadi banjir begini, sebelumnya tidak pernah,” kata Masita, Selasa, 7 Desember 2021.

Salah satu tetangganya Sakiah mempertanyakan kehadiran pemerintah pada saat situasi seperti ini, “Sekarang, Pulau Kodingareng terendam banjir. Kemana pemerintah yang selama ini berjanji akan memperbaiki pulau kami,” ujarnya.

Senada dengan itu, Anggota DPRD Kota Makassar Ray Suryadi Arsyad meminta pemerintah kota berkunjung ke pulau untuk mengecek kondisi warganya.

“Adanya kejadian dan bencana seperti ini juga perlu diketahui apa yang mereka butuhkan,” ucapnya.

Terlebih, saat ini akses ke pulau terbilang masih ekstrem. Sebab itu, kata dia, ada kemungkinan bantuan kebutuhan warga pulau juga ikut terputus.

“Fasilitas untuk menyeberang belum memadai dengan kondisi seperti ini, kami kan tidak disiapkan armada penyeberangan, ini perlu kapal yang cukup besar untuk pantau di sana,” katanya.

Kepala BPBD Kota Makassar Achmad Hendra Hakamuddin mengatakan prioritas utama BPBD adalah melakukan evakuasi. Terkait laporan dari kepulauan, kata dia, belum ada yang masuk.

Kendati begitu, ia mengatakan ada permohonan dari Kecamatan Sangkarrang yang meminta pasir untuk mencegah air pasang. 

“Ini akan kami teruskan ke dinas PU Makassar untuk menindaklanjuti hal itu,” sebutnya.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.