Terkini, Makassar – Di sebuah senja yang murung, saya membayangkan nabi-nabi turun dari padang pasir, bukan membawa wahyu, tapi dokumen tender. Menggelar rapat di ruang-ruang direksi, memeriksa prospek tambang nikel dan harga batu bara.
Mungkin malaikat Jibril pun kini dipekerjakan sebagai konsultan investasi. Bukankah iman, sebagaimana kekayaan alam, bisa juga dikelola?
Begitulah, ketika sebuah organisasi keagamaan—yang mestinya mengajari kita soal zuhud dan tawadhu —mendadak diberi konsesi tambang. Konon, ini bagian dari “pemerataan.” Seolah keadilan sosial bisa digali dengan ekskavator dan disaring lewat alat pemisah logam mulia.
Lalu muncul pertanyaan: sejak kapan Islam—agama yang diajarkan lewat kesederhanaan Nabi Muhammad dan peluh Bilal—menjadi begitu akrab dengan logika ekstraksi?
Apakah langit telah merestui bahwa tanah yang diberkahi itu kini ditakar dengan hitungan saham dan royalti?
- Polres Lutim Selidiki Kasus Provokasi yang Mengganggu Aktivitas Investasi Pertambangan
- Percepatan Tanam Lahan CSR, Kementan Dorong Peningkatan Produksi Pangan Nasional
- Ruas Jalan Makassar-Takalar dan Gowa Capai 26 Persen, Gubernur Sulsel: Progresnya Terus Berjalan
- Anggota DPRD Makassar Irwan Hasan Dorong Warga Aktif Laporkan Kendala Layanan di Kecamatan Mariso
- Proyek MYP Sulsel Dikebut, Lima Paket Jalan Tunjukkan Progres Signifikan
Di negeri ini, dalil bisa dibentuk seperti batangan emas. Ayat-ayat dipakai seperti izin lingkungan — cukup fleksibel untuk dilenturkan, cukup kabur untuk dimanipulasi.
Maka, sebaik-baik umat bukan lagi yang paling bermanfaat, yang peduli pada fakir miskin dan lingkungan, tapi yang pandai mengelola profit margin dan mendirikan entitas usaha berbadan hukum syariah.
Barangkali nanti khutbah Jumat akan berganti tema. Bukan lagi soal kejujuran dan akhirat, tapi soal cost recovery dan offtake agreement. Mungkin pula zakat tak lagi diambil dari hasil tani dan ternak, tapi dari dividen. Dan sedekah menjadi sponsor gala dinner IPO tambang berbasis wakaf.
Saya teringat sebuah kisah usang: ketika Qarun membanggakan hartanya, tanah pun menelannya. Dalam tafsir yang lebih modern, mungkin bumi sudah terlalu muak pada orang-orang yang berseru “lillahi ta’ala” sambil menandatangani kontrak eksploitasi.
Tapi siapa peduli? Di negeri ini, suara Tuhan kadang kalah nyaring dari gemuruh mesin bor. Dan kita pun berdoa, sambil memakai helm proyek.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
