Batu Bara dari Langit

Batu Bara dari Langit

K
R
Kamsah
Redaksi

Tim Redaksi

Alhasil, kini kita melihat para pengurus rumah ibadah, yang dulu sibuk dengan kitab kuning dan pelajaran fikih warisan ulama, sebagian duduk di kursi komisaris. Mereka tak lagi memikirkan bagaimana menegakkan amar ma’ruf di jalan-jalan sempit kampung miskin, tapi sibuk mengkaji potensi batubara per metrik ton.

Yang dahulu berseru “jangan ambil hak anak yatim”, kini menandatangani kesepakatan yang bisa menyingkirkan kampung nelayan dan hutan adat, atas nama “keumatan”.

Agama pun dijadikan tameng, seperti spanduk murahan yang menutupi kejahatan ekologis. Seolah-olah, jika dikelola oleh organisasi keagamaan, maka dampak ekologis tambang akan berubah suci. Lahan gundul jadi berkah. Sungai beracun jadi syar’i. Buruh tambang yang paru-parunya penuh debu, cukup disuapi ceramah pagi dan sembako Jumat.

Sungguh ironis, ketika kata jihad yang dulu berarti perjuangan melawan keserakahan, kini dimaknai sebagai proyek pengurasan isi bumi. Dulu, jihad adalah menahan diri dari nafsu, dari kerakusan, dari zalim pada makhluk. Kini, jihad berubah jadi justifikasi investasi. Para da’i pun menjadi juru bicara perusahaan, berdalil bahwa menggali emas dan batubara adalah bagian dari memakmurkan bumi.

Tapi siapa yang dimakmurkan?

Baca Juga

Apakah anak-anak kampung yang air sumurnya berubah hitam? Apakah petani yang sawahnya tenggelam oleh limbah tambang? Ataukah elite yang mendadak tampil dalam majelis dengan jas baru, mobil baru, dan doa pembuka tender?

Di zaman ini, surga seakan-akan bisa dibeli dengan konsesi. Neraka hanya milik para penolak proyek. Dan mungkin, Tuhan pun sedang berpikir ulang: kepada siapa sesungguhnya Dia harus menitipkan bumi? Sebab yang mengaku wakil-Nya di bumi, kini sibuk mengubah surga menjadi lahan garapan.

Lihatlah bagaimana Kitab Suci kita memperingatkan “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat ulah tangan manusia.” Tapi kini, ayat itu hanya jadi pembuka seminar, disusul presentasi PowerPoint yang memamerkan green mining oleh ormas yang dulunya membagikan bubur kacang hijau dan jadwal shalat.

Mereka bilang ini strategi baru dakwah, jalan Islam masuk ke dunia industri. Seolah-olah Rasulullah berdagang bukan untuk mencukupi kebutuhan umat, melainkan untuk membeli alat berat dan hak konsesi.

Cobalah bandingkan dengan sosok Umar bin Khattab. Ketika ia menjabat khalifah, ia melarang siapa pun mengambil satu jengkal tanah negara tanpa izin rakyat. Bahkan ia memarahi pejabatnya yang memakai lampu negara untuk urusan pribadi.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.