Hari ini, atas nama umat, kita izinkan organisasi agama mengelola jutaan hektar tambang tanpa pernah bertanya: siapa yang akan menanggung limbahnya? Siapa yang akan membayar ongkos kerusakan sosialnya?
Sementara itu, di Papua, di Sulawesi, di Kalimantan—tempat-tempat di mana konsesi-konsesi tambang itu diberikan—suara azan kalah nyaring dari ledakan dinamit. Udara penuh debu, sungai penuh arsenik, dan warga hanya kebagian pengajian motivasi dan dus bantuan sosial menjelang pemilu.
Di negara yang katanya mayoritas muslim ini, logika “kemaslahatan” telah dibengkokkan. Maslahat siapa? Apakah maslahat itu berarti membiarkan perusahaan tambang—baik yang berbaju agama maupun tidak—merampas tanah adat, menebang hutan lindung, dan menenggelamkan desa-desa?
Sungguh berbeda dengan Ali bin Abi Thalib, yang ketika menerima laporan kekayaan berlebih dari seorang gubernur, langsung menggugurkan jabatannya. Kini, jika seorang tokoh agama mendapatkan saham tambang, ia malah disalami dan diundang ke televisi.
Kita seperti sedang menyaksikan mutasi besar dalam sejarah iman: dari tauhid ke tambang. Dari mukjizat ke logam mulia. Dari meneladani nabi yang hidup bersahaja, menjadi pebisnis tambang yang bersandar pada legitimasi syariat.
- Polres Lutim Selidiki Kasus Provokasi yang Mengganggu Aktivitas Investasi Pertambangan
- Percepatan Tanam Lahan CSR, Kementan Dorong Peningkatan Produksi Pangan Nasional
- Ruas Jalan Makassar-Takalar dan Gowa Capai 26 Persen, Gubernur Sulsel: Progresnya Terus Berjalan
- Anggota DPRD Makassar Irwan Hasan Dorong Warga Aktif Laporkan Kendala Layanan di Kecamatan Mariso
- Proyek MYP Sulsel Dikebut, Lima Paket Jalan Tunjukkan Progres Signifikan
Mungkin satu-satunya yang belum mereka gali adalah lubang tempat kita dikuburkan nanti—lubang yang tak butuh amdal, tak kenal saham, dan tak bisa disuap dengan proposal bertanda tangan ormas.
Tapi barangkali, justru di situlah ironi agung itu menggantung—di antara langit yang diam dan bumi yang dikoyak. Kita, yang mengaku pengikut risalah langit, kini lebih sibuk menghitung tonase mineral ketimbang menakar derita manusia. Kita berdiri khusyuk di sajadah, sembari di luar, tanah tempat sujud kita dihancurkan oleh buldoser bertanda halal.
Kelak, ketika tanah yang sama itu menolak menerima tubuh-tubuh kita, mungkin bukan karena amal yang kurang atau doa yang lalai. Barangkali karena kita terlalu giat menggali dunia, dan terlalu malas menggali nurani. Sebab tambang—betapapun dibungkus dengan jargon dakwah—tetaplah tambang. Ia tidak tahu perbedaan antara yang beriman dan yang kafir. Ia menggali, mengeruk, merusak—dan pada akhirnya, mengubur.
Barangkali, yang dikuburnya bukan sekadar batu-batu dan pohon-pohon. Tapi juga nilai-nilai yang dulu kita sebut iman, yang dulu kita sebut takwa, yang dulu kita bisikkan pelan setiap malam dalam sujud panjang: “Ya Allah, jangan palingkan hati kami setelah Kau beri petunjuk.”
Kini, petunjuk itu tenggelam di kedalaman konsesi. Kita hanya punya satu doa tersisa—yang semoga belum dikeraskan menjadi slogan BUMN.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
