Terkini.id – Darud Da’wah Wal Irsyad (DDI) menggelar bedah buku berjudul “Muhammad Adnan Arsal Panglima Damai Poso”, di Hotel Mercure Makassar, Rabu 9 Februari 2022.
Buku tersebut ditulis oleh Khoirul Anam, diterbitkan oleh PT Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia pada Juni 2021.
Dalam bedah buku tersebut, turut menghadirkan sejumlah tokoh dan pemuka agama. Diantaranya Usus Kemenag RI, Mohammad Nuruzzaman, Pengurus MUI Pusat, Muh Najih Arromadloni.
Hadir juga Mantan Panglima Muslim Poso Muhammad Adnan Arsal, penulis buku Khoirul Anam.
Buku berjudul ‘Muhammad Adnan Arsal: Panglima Damai Poso’ mengungkapkan konflik berdarah yang terjadi di Poso masih menimbulkan duka mendalam bagi kedua kubu. Peristiwa berdarah pada tahun 1998 itu, pun diharapkan tidak terulang lagi dikemudian hari.
- Pengalaman Gaib Dirasakan KH Rahim Arsyad saat Beri Pin DDI untuk IAS
- Pasca PP-IMDI Dikukuhkan, Abdul Malik Ketua PW-IMDI Sulsel Mengundurkan Diri dari Jabatannya.
- Hari Kedua ICSHAIS 2020 STAI DDI Kota Makassar, Paralel Pertama Berlangsung dengan 10 Sesi
- Ketua STAI DDI Kota Makassar Membuka ICSHAIS 2020, Partisipasi 7 Negara dengan 3 Benua
- STAI DDI Kota Makassar Terakreditasi Instituti dengan Predikat Baik
Isi buku yang dikisahkan ustadz Muhammad Adnan Arsal lebih banyak memaparkan pesan-pesan perdamaian. Hal itu dijelaskan oleh penulis buku tersebut, Khoirul Anam dalam bedah buku ‘Muhammad Adnan Arsal: Panglima Damai Poso’. Pada bedah buku ini.
“Buku ini hanya menggunakan konflik Poso sebagai latar untuk menjelaskan bahaya ekstrimisme beragama. Tapi, nilai tokoh dari buku ini, adalah soal pentingnya menjaga perdamaian. Kalau konflik sudah datang, itu tugas kita untuk,” ujar Khoirul Anam.
“Buku ini menjadi inspirasi kita semua, karena setelah puluhan tahun, sampai sekarang Indonesia masih mengalami konflik, terutama konflik yang mengatasnamakan agama. Berdasarkan pengalaman masyarakat Poso bagaimanapun konflik itu, tidak akan menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Tapi tokoh-tokoh penting membawa masyarakat untuk berdialog,” ucapnya.
Kemudian Darud Da’wah DDI, Muammar Muhammad Bakry, dan tokoh perempuan Majdah M. Zain. Sementara bertindak sebagai keynote speaker yakni Gurutta H.M Alwi Nawawi dan dipandu oleh Muhammad Shuhufi.
Lewat buku itu pula, ia bilang pihaknya berharap bisa berbagi kisah dan sejarah perjalanan penyelesaian konflik Poso. Sehingga akan memberi makna yang inspiratif untuk memupuk semangat saling menghargai, tolong menolong dan gotong royong dalam menciptakan kedamaian.
“Buku ini berisi banyak pesan perdamaian. Berdasarkan pengalaman, kekerasan tidak pernah bisa menyelesaikan masalah. Lewat buku ini, kami harapkan agar konflik Poso tidak diduplikasi di daerah lain dan stigma Poso sebagai daerah konflik harus dihentikan,” ungkap Khoirul.
Sementara itu, Ustadz Adnan menceritakan pelbagai pengalaman saat konflik tersebut terjadi. Pengalaman itu, diakuinya masih membekas dan turut tertuang dalam buku karya Khoirul Anam.
Salah satu kisah yang diceritakan yakni saat banyak orang mulai meninggalkan Poso. Ia memilih tinggal dan bertekad memberi perlindungan kepada umat muslim dan membuatnya bertahan di Poso.
Menurut dia, guna mencapai perdamaian, pihaknya terus membangun komunikasi dengan bupati dan unsur forkopimda Poso kala itu. Pihaknya mendorong pertemuan antar-seluruh tokoh agama.
Meski diakuinya setiap kali disepakati perdamaian pada siang hari, tapi malamnya perang kembali pecah. “Siang kita berdiskusi lalu berdamai, tapi malamnya diserang dan pecah lagi. Sudah beberapa kali berdamai tapi ujungnya selalu konflik,” imbuhnya.
Namun, perjuangannya dalam menciptakan perdamaian di Poso telah terbayar. “Konflik itu sudah kami selesaikan dengan berbagai pertemuan dan dialog. Sehingga antar Islam dan Kristen sudah hidup dengan damai dan sejahtera,” pungkasnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
