Belajar Berhitung

Sempoa
Foto Ilustrasi Terkini.id / M Yunus

Hari-hari ini, kita begitu gemar menghitung angka kematian lengkap dengan statistik dan rumus baru. Kita pun mengenal istilah, seperti; orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP), dan positif terpapar virus corona.

Padahal, Ilmu matematika–sebagian dari kita menganggapnya pelajaran paling rumit sedunia–seringkali sukar diterka. Saking kesalnya, seorang teman pernah melontarkan pertanyaan lelucon saat mengetahui dirinya tak lulus tes CPNS lantaran gagal memecahkan soalnya.

Kira-kira begini pertanyaannya:

Diketahui Eka dan Resti sudah menjalin hubungan selama 6 tahun. Namun, 1 tahun ke depan mereka tak bisa saling bertemu karena Eka harus merantau sebagai TKI di Malaysia agar bisa cepat mengumpulkan uang Panai.

Hitunglah berapa kuadrat rindu yang dipendam Resti?

Menarik untuk Anda:

Soal selanjutnya.

Jarak rumah Iqbal dan Fitri sejauh 15 km dan dilalui dengan kecepatan 20 km/jam. Berapa waktu yang ditempuh jika di tengah perjalanan ternyata bertemu dengan mantan yang sekarang jadi lebih alim?

Saking sibuk mencari solusi, teman saya tak menyadari telah kehabisan waktu.

Memang, menjawab soal matematika butuh kalkulasi dan perhitungan yang matang. Tak bisa hanya berharap pada keberuntungan semacam menghitung kancing baju atau melempar dadu.

***

Hal yang sama juga berlaku bagi kebijakan pemerintah akhir-akhir ini. Selain mencari solusi ihwal pandemi virus corona, pun mesti mematok durasi yang dibutuhkan.

Saya tak hendak menyederhanakan persoalannya dengan menyandingkan pandemi virus corona dan ilmu matematika. Namun, pemerintah mesti cepat-cepat menemukan hasil akhirnya sebelum kehabisan waktu.

Sebagai individu, teman saya gagal menjawab soalnya sehingga harus menanggung konsekuensi mengurungkan niatnya jadi PNS.

Pertanyaannya, sebagai negara, apa konsekuensi bila pemerintah gagal menjawab soalnya? Dengan mudah dapat kita baca, kematian akan meningkat, drastis, pihak rumah sakit akan kewalahan menampung kuantitas pasien. Pada akhirnya, memproduksi kesedihan terus menerus.

Kita pun menyadari, virus corona bukan hanya menyerang populasi manusia, namun juga berupaya mencabut inti kemanusiaan dalam diri kita.

Sebagian dari kita telah menyelamatkan diri sendiri dengan memborong makanan dan pelindung diri semacam hand sanitizer dan masker di toko. Sebagian yang lain, memanfaatkan kesempatan dengan melakukan penimbunan.

Meski, sebagian kecil juga ikut terlibat dalam gerakan sosial semacam penggalangan dana untuk memenuhi perlengkapan dokter.

Dalam keadaan cemas, tentu segala hal akan menjadi semakin rumit. Otak kita tak akan mampu bekerja dengan baik. Namun, kabar baiknya, dalam keadaan tertekan, kepintaran seringkali berlipat ganda, semisal mengintip jawaban teman atau membuka kunci jawaban saat waktu ujian akan berakhir.

Untuk itu, kita tetap menaruh harap pada kecerdasan pemerintah agar mampu memecahkan kerumitan pandemi virus corona yang kompleks. Meskipun, bila itu adalah hasil contekan.

Pemerintah, kita tahu, sedang gencar melakukan imbauan agar masyarakat tetap berada di rumah dan berjaga jarak. Di samping itu, tampak sibuk menghitung angka kematian yang terus bertambah dan memikirkan nilai rupiah yang terus menukik.

Hari-hari ini, kita pun semakin menyadari betapa berbahayanya ketakutan. Cara pemerintah menjawab problem hari ini, kelak, akan kita kenang sebagai ke-benar-an atau kesalahan.

***

Sembari menunggu jawaban, sebagian orang berdiam diri di rumah bersama keluarga.

Barangkali, di antara mereka ada yang teringat petuah masa kecilnya. Saat orang tua memberi isyarat cuci tangan sebelum makan dan memintanya mencuci kaki sebelum tidur.

Namun, barangkali tak banyak di antara kita yang beruntung dan memiliki kesempatan untuk mengingat memori masa kecilnya dan tinggal di rumah. Sebagian yang lain, menunggu dengan tetap beraktivitas seperti biasa, mereka mencari rezeki di tengah ketakutan akan kelaparan.

“Kematian adalah masa depan semua orang,” kata penyair Aslan Abidin.

***

Kendati menunggu adalah pekerjaaan melelahkan, barangkali kita tetap butuh lelucon untuk sekadar menertawakan getirnya kehidupan.

Bukankah ketakutan justru menurunkan tingkat imunitas? Pertahanan terakhir yang akan menentukan kehidupan kita.

Mari bekerjasama melawan ketakutan dengan menyalakan lilin di tengah kegelapan. Bila tak ada lagi yang dapat kita percayai, lantas dengan cara apa kita ingin bangkit kembali?

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Debat Calon Bupati-Wakil Bupati Bulukumba: Tanggapan Putra Daerah

Tolak Politik Uang untuk Pilkada yang Bermartabat!

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar