Memaknai Kemerdekaan Bukan Sekedar Simbolik

Ilustrasi Kemerdekaan Indonesia

TUJUH belas Agustus merupakan momentum bersejarah sepanjang rentetan peristiwa, yang turut menghiasi dalam konsep Indonesia.

Euforia kemerdekaan menggema dari berbagai penjuru mendengar teks proklamasi di lantunkan secara nikmat, membakar semangat nasionalisme. Pertanda alarm terbebas dari belenggu kolonial. Rekaman panjang atas jejak sejarah menjadi bukti nyata, bahwa indonesia telah melewati ambang suka dan duka menuju negara dengan masyarakat madani, adil makmur.

Para founding father kita banyak mengorbankan segala aspek atas pencapaian ini. Ada banyak distorsi sejarah yang masih belum terpublikasi perihal menuju kemerdekaan. Seperti dinamika perumusan proklamasi, prosesi menuju pembacaan dsb.

Ini menjadi refleksi nasionalis, apalagi di usia yang sudah hampir menyentuh 1 abad, 74 tahun bukan usia yang mudah lagi. Tentu saja banyak pelajaran, serta cerminan dahulu yang bisa kita petik dan rekonstruksi kembali hari ini.

Jika konteks perayaan kemerdekaan hari ini hanya di maknai sebatas acara seremonial (simbolik), maka kita masih belum sepenuhnya dikatakan berjiwa nasionalisme yang kompleks. Pengejawantahan atas semangat para pahlawan tidak berhenti pada hari ini (tahunan) akan tetapi, implementasi kemerdekaan dalam kehidupan sehari-hari yang berkembang sesuai dengan denyut nadi peradaban, menuju perubahan yang dinamis itulah yang sebenarnya merdeka sehemat pengetahuan saya.

Lebih peka terhadap keadaan sosial, kondisi rakyat dan negara hari ini yang carut-marut serta perlahan bergeser atas nilai moralitas. Dapat melihat beberapa elemen dari masyarakat merasakan keadilan maka itulah makna kemerdekaan yang haqiqi bersama.

Mari merdeka secara kolektif bukan individualistik.

Fian Anawagis

Mahasiswa Fakultas Adab UIN Alauddin sekaligus ketua HMJ Sejarah Peradaban dan Anggota KMPP

Berita Terkait