Beragam Cerita Pelaku UMKM Saat Talkshow Success Story

Beragam Cerita Pelaku UMKMSaat Talkshow Success Story

Terkini.id, Makassar – Badan Standardisasi Nasional (BSN) menggelar acara Talkshow Success Story Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI).

Deputi Bidang Penerapan Standar dan Penilaian Kesesuaian Badan Standardisasi Nasional, Zakiyah, mengatakan tujuan success story menggali pengalaman-pengalaman UMKM di dalam penerapan SNI.

“Baik dampaknya terhadap industri mereka termasuk bagaimana mereka bertanggung jawab terhadap sosialnya,” kata dia saat ditemui di Hotel Harper Perintis, Selasa, 10 September 2019.

Ia berharap dengan succes story dapat menginspirasi UMKM. Talkshow ini, kata dia, merupakan salah satu program pemerintah untuk meningkatkan UMKM agar menerapkan SNI.

Saat ditanya ihwal UMKM yang bersandar SNI di Sulsel, ia mengatakan masih sedikit jika melihat dari presentasi lantaran belum sampai 5 persen.

“Ini tantangan bagi kami dan pemerintah daerah setempat untuk mensosialisasikan SNI kemudian bisa menfasilitasi UMKM,” paparnya.

Selain itu, ia mengatakan butuh komitmen dari pelaku UMKM agar menyediakan finansial dan SDM. Ia mengatakan penerapan SNI terbukti mampu memnaikkan pendapatan pelaku usaha.

Ia memaparkan masalah UMKM belum menggunakan SNI, antara lain soal informasi mengenai standar yang belum sampai. Lantaran, kata dia, masyarakat masih menganggap penerapan SNI mahal.

“Masyarakat berpikir tanpa penerapan standar, dagangan saya juga laku, jadi mainset. Selain itu, dukungan konsumen terkait hak mereka untuk memperoleh produk yang baik dan berstandar juga tidak berjalan” kata dia.

“Akhirnya tidak menuntut, selain itu harus ada sisitem membantu UMKM agar menerapkan standar SNI,” sambungnya.

Terkait dengan biaya sertifikasi, ia mengatakan hal itu bergantung tiga komponen besar, antara lain, biaya pengujian, biaya assessment lantaran menggunakan tenaga ahli, dan biaya administrasi lain.

“Karena itu beragam, ada yang 10 juta, ada yang 25 juta tergantung dari produknya. Pengujian tergantung berapa parameter karena ini berpebaruh soal berapa parameter,” ungkapnya.

Khusus untuk UMKM, kata Zakiyah, ada kewajiban dari pemerintah lantaran diatur dalam UU untuk memfasilitasi mereka berupa subsidi soal pembiayaan sertifikasi, dan pada saat konsultasi.

Ia berharap dengan talkshow success story banyak UMKM yang menepakan standar SNI,  konsisten mutunya. Ia mengatakan penerapan standar secara tidak langsung melakukan perlindungan terhadap lingkungan.

“Artinya standar tidak berlebihan dan bahan baku tidak dibuang, efisiensi, dan tingkat kepercayaan konsumen meningkat. Sekaligus memelihara sumber daya alam,” pungkasnya.

Perwakilan UKM UD Naga Mas, Narto, bercerita soal proses yang harus ia tempuh agar produk kecap lombok cap dua jempol miliknya menggunakan SNI.

“Harus ada kesadaran dari pelaku usaha sendiri. Dari pengusaha banyak yang tidak tahu apa faedahnya dari standar SNI itu,” ungkap Narto.

Ia mengatakan SNI memberi jaminan suatu produk untuk dikomsumsi. Jadi, kata dia, peranan pemerintah dan dinas terkait memberikan edukasi terhadap pelaku usaha lantaran SNI sangat dibutuhkan terhadap suatu produk.

“Walaupun itu tidak wajib tetapi karena karena ini berhubungan dengan makanan, konsumen, dan otomatis berhubungan dengan kesehatan,” paparnya.

Produk makanan saat ini, kata Narto, tak bersumber dari satu bahan tetapi bermacam-macam bahan. Ia menyebut ada yang sifatnya kimiawi dan ada yang alami.

“Dengan adanya SNI, pelaku usaha bisa memberikan parameter dan batasan bahwa kandungan yang diperbolehkan layak dikomsumsi,” ungkapnya.

Dengan adanya SNI, dia mengatakan ada standar yang tak bisa dilewati. Terkait dengan sertifikasi, ia mengatakan dilakukan per tiga tahun.

Sejak menggunakan SNI, Narto mengatakan, sebelumnya hanya memproduksi sebanyak 5 ton saja. Namun, kata dia, setelah berstandar SNI dirinya mampu menghasilkan 9 ton.

ldrus Perwakilan UKM Garam Reski mengatakan untuk mendapatkan standar SNI maka yang paling utama yang harus diperhatikan, yakni bahan baku dan kemasannya.

Bahan bakunya diperbaiki dan kemasannya, dulu peningkatan omset, 500 kg perhari, setelah SNI meningkat 100 setengah ton perhari,” paparnya.

Risdayanti Perwakilan UKM Pokhlaksar KSM Tengiri mengatakan, SNI mampu meyakinkan masyarakat bahwa produk tersebut berkualitas dan higienis.

Terkait tips dari UMKM, ia mengatakan selalu berusaha dan bekerja keras.

“harus betul-betul dengan standar komposisi yang telah ditetapkan. Tempat higienis, kemasan yang bersih, dan bagian produksi menjadi perhatian,” tutupnya.

Berita Terkait
Komentar
Terkini