Muhibah Budaya Jalur Rempah 2022, Makassar Jadi Titik Kedua

Muhibah Budaya Jalur Rempah 2022, Makassar Jadi Titik Kedua

K
R
Kamsah
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, Makassar – Setelah Surabaya, Makassar menjadi titik kedua Muhibah Budaya Jalur Rempah tahun 2022. Laskar Rempah telah menghabiskan waktu selama tiga hari untuk mempelajari dan memahami sejarah yang ada di Sulawesi Selatan. 

Sekretaris Daerah Kota Makassar, M. Ansar melakukan pelepasan budaya Jalur Rempah yang telah bersandar selama tiga hari di Pelabuhan Kota Makassar. Setelah sebelumnya Surabaya dipilih menjadi titik napak tilas pertama Muhibah Budaya Jalur Rempah tahun 2022.

“Kedatangan KRI Dewa Ruci yang bersandar di pelabuhan Kota Makassar yang membawa peserta Muhibah Budaya Jalur rempah menorehkan peristiwa bersejarah yang sangat indah,” kata Ansar, Senin, 6 Juni 2022.

Kegiatan ini merupakan salah satu upaya diplomasi yang diharapkan dapat semakin mempertegas adidaya budaya Indonesia serta kedaulatan Indonesia yang terbangun oleh ragam budaya yang dipersatukan melalui kehangatan rempah-rempah.

“Atas nama Pemerintah kota Makassar, kami ucapkan selamat jalan dan selamat melanjutkan perjalanan, semoga selama beberapa hari bersandar di pelabuhan Makassar dapat menambah indah rangkaian perjalanan peserta Muhibah Budaya Jalur Rempah,” ungkapnya.

Muhibah Budaya Jalur Rempah sendiri merupakan program yang diinisiasi oleh Kemendikbudristek bekerja sama dengan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL), Pemerintah Daerah, serta berbagai komunitas budaya.

Kegiatan ini menyusuri enam titik Jalur Rempah, yakni Surabaya, Makassar, Bau-bau dan Buton, Ternate dan Tidore, Banda Neira, dan Kupang.

Hal ini merupakan salah satu upaya diplomasi budaya yang diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Serta upaya untuk melibatkan generasi muda untuk mengenal narasi sejarah peradaban rempah dari geladak kapal Indonesia sendiri.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) tengah mengusulkan Jalur Rempah sebagai warisan budaya dunia tak benda ke Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNESCO.

Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemendikbudristek, Sjamsul Hadi, mengatakan pengusulan ini sudah dilakukan sejak 2017 dan didasari oleh pemahaman bahwa Jalur Rempah adalah jalur pertukaran antarbudaya dan pertukaran pengetahuan.

“Oleh karena itu, melalui program ini kami harapkan dukungan dari provinsi dan kabupaten kota, sebab Kemendikbud akan mengusulkan Jalur Rempah sebagai warisan dunia ke UNESCO,” ungkap Sjamsul.

Dengan fokus warisan budaya tak benda, lanjut dia, program Jalur Rempah bergerak lebih terarah untuk merevitalisasi Jalur Rempah. Dengan cara ini, diharapkan spirit Jalur Rempah menjadi nilai dan gaya hidup masyarakat, mulai pendidikan, kesehatan, ekonomi, sastra, seni dan lainnya.

Termasuk dalam pemberdayaan komunitas rempah, pengembangan eduwisata Jalur Rempah, hingga pertunjukan seni, pengetahuan, dan teknologi, tradisional pengobatan, workshop dan lain sebagainya.

Diajukannya Jalur Rempah ke UNESCO menunjukkan itikad Indonesia untuk mengambil peran dalam menjaga amanah yang diberikan dunia untuk menjaga warisan peradaban manusia.

Jalur Rempah bukan lagi warisan milik Indonesia, melainkan warisan milik dunia yang kelestarian dan keberlangsungannya diamanahkan kepada semua pihak.

“Program pelayaran muhibah Jalur Rempah diharapkan dapat berlangsung berkelanjutan sebagai wadah pertemuan pelaku lintas daerah serta sebagai sarana diplomasi dan kampanye untuk mengangkat spirit kejayaan rempah, serta mengantarkan Jalur Rempah sebagai the world heritage yang diakui UNESCO,” pungkasnya.

KRI Dewaruci Bertolak ke Bau-Bau

Rombongan Muhibah Budaya Jalur Rempah telah menghabiskan waktu kurang lebih 3 hari menyusuri kebudayaan Sulawesi Selatan serta menapak tilas jejak perdagangan rempah masa lampau yang terjadi di Makassar.

Para peserta mengunjungi sejumlah situs warisan budaya, di antaranya Museum Karaeng Pattingalloang, Museum Balla Lompoa, Makam Sultan Hasanuddin, Kompleks Makam Raja-Raja Tallo, Kelenteng Thian Ho Kong, Museum Kota Makassar, dan Museum La Galigo.

Rombongan akhirnya bertolak ke titik persinggahan Jalur Rempah ketiga, yakni Bau-bau dan Buton. Mereka bertolak menggunakan KRI Dewaruci, kapal latih untuk para Kadet Angkatan Laut Indonesia.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulsel, Muh. Jufri menuturkan, Sulawesi Selatan dan Makassar pada khususnya dipilih sebagai salah satu titik persinggahan, sebab Makassar secara historis menjadi salah satu poros perdagangan rempah dunia di masa lampau.

“Dan sampai hari ini, pemerintah provinsi Selatan tetap berkomitmen untuk menjaga, mengembangkan, dan mendorong perdagangan rempah-rempah ini,” ungkap Jufri.

Salah satu bukti komitmen pemerintah provinsi dalam mengembangkan potensi perdagangan rempah-rempah, ditunjukkan oleh berhasilnya ekspor rempah-rempah senilai kurang lebih Rp54 miliar yang dilakukan pada tahun 2021 lalu.

“Tahun lalu Pemprov Sulsel mengekspor kurang lebih Rp54 miliar ke negara Asia dan beberapa negara Eropa. ada kemiri, ada cengkeh, kayu manis, itu semua dari sini,” jelasnya.

Jufrie berharap, program Muhibah Budaya Jalur Rempah mampu memberikan edukasi kepada generasi muda agar tidak melupakan nilai kesejarahan yang terkait jalur rempah. 

“Diharapkan aspek kebudayaan Jalur Rempah ini tidak hilang begitu saja, tetapi bisa dikenang, yang memang sampai hari ini menjadi pelajaran di sejarah bahwa Jalur Rempah ini adalah sesuatu yang pernah sangat jaya di masanya,” tukas Jufri.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.